Kumpulan Naskah Drama Teater

IBU BUMI
Karya:
Candra Barong Harjanto
Suasana panggung lengang, kasur kapas ditengah panggung. Seseorang (perempuan bijaksana setengah tua) menaruh lilin/lampu minyak pada posisi depan, pojok-pojok panggung, sambil menyebar bunga.
Seseorang:     Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Aku mulai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.
Tiga orang masuk lalu-lalang, berkata: tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara…….(semakin lama semakin cepat. Seseorang mendekati kasur, membersihkan kasur, merapikan, kemudian menariknya pelan-pelan. )
Seseorang: tanah…… kembalilah ke tanah.air…..kembalilah ke air, udara………kembalilah ke udara.{di ulang 3 kali }tanah,air,udara.kembalikan aku kepadanya,sang pencipta.
Tiga orang     :Bolehkah aku bertanya?
1 :           eeeeee…..bo…..bo…..bolehkah aku bertanya, siapa kamu, ada sesuatu yang indah, sangat menarik darimi.
2 :           Dari manakah kamu?
3 :           Aku melihat orang-orang lalu lalang, tanpa tegur sapa. Seperti berhala-berhala yang minta dipuja-puja, apa itu yang disebut keramahan?
1 :           Aku merindukan keteduhan jiwa.
2 :           Aku mencarinya, berhari-hari, bulan, tahun, dan berabad-abad
3 :           Siapa kamu, aku melihat sesuatu nasihat yang terukir dari surga,nasihat cinta
1 :           Apakah kamu tanah………
2 :           Kamukah air………
3 :           Barang kali kamu tanah, air, udara, semuanya ada padamu
Seseorang     : Aku cinta, aku dari cinta, tempat kamu barasal dan akan kembali
Tiga orang     : Aku cinta, aku dari cinta, tempat aku berasal dan akan kembali
Seseorang        :           Orang-orang mulai lupa, dari mana mereka berasal dan kemana akan kembali. Orang-orang tinggalkan agama, orang-orang lupa Tuhannya.
Tiga orang     : Aku cinta, aku cinta, betapa indah aku, aku cinta, akulah makna….
Seseorang     : Ya, Bila cinta adalah nafasmu
Aku ingin melarutkan diri di etiap detak jantung
Di saat helaan nafas sedih dan gembiramu
Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta
Entah apa, dimana, bagaimana?
Aku ingin mengikuti jejak yang kau sunting lewat tanah
Menyemai benih kerinduan
Bila aku penguasa cinta
Akan aku berikan kasih dan sayang pada orang
Yang tulus memaknainya dengan keabadian
Agar yang terberai bisa bersatu
1 :           Kamukah perempuan yang ku cari?
2 :           Aku selalu mengenang dan merindukanmu
3 :           Kamukah perempuan itu, perempuan makna yang kucari?
Bila cinta adalah nafasmu
Aku ingin melarutkan diri disetiap detak jantung
Disaat helaan nafas sedih dan gembiramu
Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta
Entah apa, dimana, bagaimana?
Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta
Entah apa,dimana,bagaimana?
Aku ingin mengikuti jejak yang kau sunting lewat tanah
Menyamai benih kerinduan.
Bila aku penguasa cinta,
Yang tulus memaknainya dengan keabadian
Agar yang terberai bisa bersatu.
1,2,3       : kamukah perempuan itu?apakah kamu ibundaku?
Seseorang (keluar dari panggung sambil berkata)
Kamu pernah aku lindungi
Akulah negaramu,aku bundamu
Aku adalah cinta,perempuan itu
1,2,3       : apakah kamu ibundaku?
LAMPU MATI
A,B,C Sudah dipanggung,berlalu lalang sambil mendorong kereta bayi.
A,B,C    : jangan menangis,lekas tidur sayang…tidurlah yang nyenyak,jangan
gelisah,aku selalu menjagamu.ayo sayang,minum yang banyak,jangan nakal,jangan ngompol,cup…cup…cup…ayo nak,belajarlah menggenggam,belajarlah meraih mainanmu,belajarlah berjalan,jangan pernah bersedih,ini mainanmu.aduuuh..anaku ngompol lagi,ayo mandi dulu…tersenyumlah nak,itu bapak sudah datang,jangan nangis ya….
A,B,C    : lekas tidur, malam sudah larut
Lekas tidur, malam sudah larut (lalu dia mematung)
Seseoarang keluar menarik kasur,diatasnya banyak sekali boneka,ada beberapa boneka yang digendong sambil membawa lampu teplok atau sambil menyapu jalan.boneka diletakkan di kereta bayi atau dibagi-bagikan,tersenyum.
A,B,C     : jangan menangis,lekas tidur sayang…. Tidur yang nyenyak, jangan gelisah, aku slalu menjaga mu. Ayo sayang minum yang banyak, jangan nakal, jangan ngompo cup..cup..cup.. ayo nak, belajar mengenggam. Belajar mearaih mainan mu, belajar berjalan, jangan pernah bersedih, ini mainanmu,aduh anak ku ngompol lagi, ayo mandi dulu,itu bapak sudah datang,jangan nangis ya…
Seseorang : jadilah apa yang kamu ingingkan (masih membagi-bagikan boneka)
Kamu berhak memilih jalan yang terbentang didepanmu
Aku adalah busur dan kau adalah panah milik sang hidup
Jadilah dirimu sendiri,jadilah penentu jalanmu
Hidup adalah pilihan
Kamu berhak memilih sukses atau gagal,untuk bahagia atau berduka
Untuk berbagi atau kau miliki sendiri,pilihanmu adalah hak mu
Dan kau bertanggung jawab terhadap setiap pilihan dan tindakanmu.
A,B,C menirukan kata-kata seseorang saat mendapatkan boneka…
Seseorang : aku dari tanah,dan akan kembali lagi ketanah.aku yang pernah menjadi rumah kehidupanmu,melindungimu dengan cinta,dengan rasa,bilaperlu aku berikan jantungku,nafas untukmu agar kamu lebih baik anak-anaku…akulah tanah airmu,akulah darahmu,yang pernah merasai detak jantung dan aliran darahmu saat dirahimku…seperti kau telah merasai detak jantung dan aliran darahku.
A,B,C        : Kamukah ibundaku? Kamukah perempuan cinta?
Seseorang  : Ya, akulah ibundamu.perempuan cinta yang memberi cinta.melebihi cinta diatas cinta yang pernah ada.
A               : Kaulah jantungku.
B               : Kaulah nafasku.
C               : Kaulah gerakku.
B               : Aku akan melebihi cinta, seperti cintamu pada anak-anakku.
Seseorang : Akulah ibundamu, tanah airmu…rumah kehidupanmu..
1,2,3         : Kamukah ibundaku? Tanah airku?
Seseorang : Ya, akulah ibu bumi yang selalu disebut-sebut,akulah tanah airmu.
Akulah orang yang mengajarimu mengenal tuhan.
Akulah darahmu, tanah air tercinta.
1,2,3         : Kamukah yang selalu disebut-sebut ibu bumi?
Seseorang : Ya, akulah perempuan itu.ibu bumi,ibunda tanah air tercintamu.
Akulah ibundamu.
Akulah perempuan yang selalu disebut-sebut dalm setiap lembaran sejarahkehidupan,akulah prasastimu yang akan selalu kau kenang.
Akulah ibundamu…
SELESAI.LAMPU MATI PERLAHAN.

NASKAH DRAMA:
BADAI SEPANJANG MALAM
Karya MAX ARIFIN
Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepala Desa,suara pada flashback
Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu
minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku
besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai .Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.

Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.
Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling
Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.
01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.
02.Saenah :
Kau belum tidur juga?kukira sudah larut malam.Beristirahatlah,besok kan hari kerja?
03.Jamil:
Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam.
04.saenah:
Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?
05.jamil:
Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku,Saenah.Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.
06.Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku?Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?
07.Jamil:
Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak,aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober 1977.
08.Saenah:
[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker,tidak bersahabat:panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini?Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya.Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita?Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.”[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]
09.Jamil:
Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.
10.Saenah:
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?
11.Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun,sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”.Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”.Yang berkata “Tidak” akan disisihkan.[Pause] Memang sulit,Saenah.Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]
12.Saenah:
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai.Idealismemu menyala nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini.Kaurekam peristiwa itu.[Saenah memutar tape itu,kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin,kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]
13.Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.
14.Jamil:
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?
15.Saenah:
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.
16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota
17.Saenah:
Kau tidak memahami masyarakatmu.
18.Jamil:
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.
19.saenah:
siapa yang salah dalam hal ini.
20.Jamil:
Masyarakat.
21.Saenah:
Yang menang ?
22.Jamil:
Aku
23.Saenah:
Lalu ?
24.Jamil:
Aku mau pindah dari sini.[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].
25.Saenah:
[Dengan suara rendah]Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.
26.Jamil:
[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.
27.Saenah:
[Keras]Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu.Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.[Pause]
[Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan.Memakai potentiometer.Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]
28.Jamil:
Aku mau hidup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka.Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota.Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.
29.Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.
30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.
31.Saenah:
Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga.Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.[Pause senbentar.Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]
32.Saenah:
Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson atau Alvin Toffler.Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.
33.Jamil:
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?
34.Saenah:
Tidak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyaai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya.apakah kau menyerah dalam hal ini?Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu bnyak yang akan kausumbngkan padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu.Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.[Suasana menjadi hening sekali.Pause]
Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya.Betapapun kecil kekuatan itu.Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.Dialog yang masih kurang.
34.Jamil:
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas,kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi.Disementara sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi,sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut.Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.
35.Saenah:
Ya,seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa ,kata mereka.Kan aku berkuasa.
36.Jamil;
Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu.Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan,yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.
37.Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.
38.Jamil:
Memang aku mengutip dia.[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]
39.Saenah:
Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sangat membutuhkan kau.
40.Jamil:
Aku akan tetap berada di desa ini,sayangku.
41.Saenah:
Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah.[Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti].
Catatan:
Naskah ini pernah dimuat dalam buku Kumpulan Drama Remaja, editor A.Rumadi.Penerbit PT Gramedia Jakarta,1988,halaman 25-33.
“AKU MASIH PERAWAN”
SKENARIO:
AKU MASIH PERAWAN
Babak 1
Pemain : Raja William Both Peri Ngatan
Ratu Eliserbet Peri Gosip
Pangeran Dustin Peri Ngisan
Tuan Wor – wor Peri Jahat
Properti : Dua buah kuris Tahta Kerajaan
Sebuah Microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajaib Pakaian Kerajaan
Latar : Di Perayaan Turun Tahta Istana Parahiyangan
Teks :
Disebuah Pegunungan Himala yuuuuk, berdirilah sebuah istana Parahiyangan yang dihuni seorang Raja William Both dan Ratu Eliserbet beserta putranya yaitu Pangeran Dustin.
Tampak mereka sedang mengadakan pesta turun tahta, dimana Raja William Both menurunkan tahta pada Pangeran Dustin, dan pesta itu dihadiri oleh seluruh rakyat di Negeri Itu beserta peri-peri kayangan, namun Raja lupa tidak mengundang salah satu peri. Penasaran…….???? Yuuuuk!!!!

Roman Picisan Mukadima / Dewa
Raja : Bagaimana putraku, apakah ananda sudah siap menerima tahta
dari ayahanda ini?
Pangeran : Baiklah ayahanda, ananda akan berusaha sekuat tenaga ananda Ratu : Ananda, ingatlah bahwa engkau adalah penerus tahta Kerajaan
ini. So don’t worry, be Happy.
(Akhirnya Pangeran meninggalkan Raja dan Ratu dan membaur dengan para tamu, sesaat kemudian beberapa peri datang antara lain : peri gossip, peri ngisan, dan peri ngatan)
Tn Wor-wor : Woro-woro, Peri ngisan, Peri Gosip, Peri Ngatan,
segera memasuki arena
• (Peri-peri menari kemudian menghampiri Pangeran)
Semua Peri-peri: Hai..!!!
Peri Ngisan : Hai Pangeran hi…hi…hi…gimana kabarnya???hi…hi…hi
tambah cakep aja hi…hi…hi…
Peri Gosip : Gosipnya nih, bakalan ada Raja baru nich!!!
Peri Ngatan : Ingat!!! Harus adil, Ingat!!! Harus bijaksana, Ingat!!!
Haruuss…
Pangeran : lya.. .ya.. .ya… oke deh
(lain peri-peri meninggalkan pangeran dan menghampiri Raja dan Ratu) Raja : Selamat datang para peri-peri
Semua Peri : Terima kasih Paduka Raja
Ratu : Kalian tampak ceria sekali hari ini
Peri Ngisan : Hi…hi…hi… tentu saja Ratu hi..hi..hi..khan Pangeran
mau naik tahta hi..hi..hi
Peri Gosip : Gosipnya nih, masak Pangeran naik tahta, BBM ikut
juga?!
Peri Ngatan : Ingat!!! kagak nyambung !
(beberapa menit kemudian, acara penyerahan tahta dilaksanakan)
Tn Wor-wor : Upacara penyerahan tahta kerajaan segera
dimulai… Baginda. Raja dan Pangeran menyiapkan diri masing-masing……
Raja : Siapkah ananda menerima tahta ini?
Pangeran : Siap…..ayah…..a…..n…..d….a
Peri Jahat : Hentikan!!! Semua!!!
Semua Peri : Yuuu…kk!!!
Peri Jahat : Apa kalian yak.. .yuk.. .yak.. .yuk…?!
Namaku bukan Yayuk
Hai….Raja!!!Kau sudah menghina aku !
Mengapa kau tidak mengundangku?!
Raja : Maaf Peri, aku lupa tidak mengundangmu
Peri Jahat : Aku tidak mau TAHU tapi, kalau tempe.. ..yuuuk.. …
Peri Gosip : Gosipnya nich, TAHU ada formalinnya looh….
Peri Ngatan : Ingat !!! Formalin berbahaya Ingat!!!tidak baik untuk
kesehatan
Peri Ngisan : hi…hi…hi…bener looh….hi…hi…hi…
Peri Jahat : Aku tidak terima!!! Sekarang aku akan mengutukmu
Pangeran. Akan kubuat kau tertidur selama 100 tahun
Peri Ngatan : Ingat!!! Marah dapat menyebabkan gangguan jantung,
impotensi, gangguan kehamilan dan janin
Peri Jahat : Ya sudah deh karena lagi big sale, aku kasih diskon 50 %
jadi…. 50….tahun
Ha…ha…ha dengan kekuatan dunia lain….akan
mengutukmu.. ..cliii.. ..ng
• Raja & ratu : Anakku,?!
Babak II:
Remain : Raja William Both Peri Ngatan Minten
Ratu Eliserbet Peri Gosip Britney Sprit Pangeran Dastin Peri Ngisan Mrs. Rock
Tn Wor Peri Jahat Puja
Properti : Dua buah kursi tahta Kerajaan
Sebuah microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajaib
Pakaian Kerajaan & sesuai karakter
Seperangkat jamu, tongkat
Gitar dan papan bertuliskan “2 hari kemudian” & “sensor”
Latar : Didalam Istana Parahyangan
Teks : “2 hari kemudian”

Roman Picisan Mukadima / Dewa
Raja & Ratu marah, sedih atas tindakan peri jahat, oleh karenanya mereka mengadakan sayembara bagi seluruh perawan diseluruh pelosok negeri untuk dapat membangunkan pangeran dari tidurnya dan sebagai imbalannya akan dijadikan pendamping hidup Sang Pangeran
Tn.Wor-wor : Pengumunan-pengumuman bagi seluruh perawan dibuka
lowongan menjadi pendamping hidup Pangeran asalkan dapat membangunkan Pangeran dari tidurnya
(Datanglah berduyun-duyun seluruh perawan dari seluruh pelosok negeri)

Malam Pertama / Rossa
Tn.Wor-wor : Baiklah, peserta pertama….kita tampilnya….perawan Jawa
dari Negeri Babatan. Inilah.. ..Sri.. ..Min.. .ten.. ..
Sri Minten : Kulo nyuwun kaleh ewu,eh…nyuwun sewu!!! Izinkan
saya membangunkan Pangeran dengan jamu saya. Saya punya jamu :jamu awet muda, awet tua, sampe’ awet melle’ tanpa bahan pengawet
Ratu : Silahkan Sri Minten !!!
Sri Minten : (sambil menjejcdkanjamunyapada Pangeran)
Ayo.. .diminum jamunya biar cepet melle’ ayo.. .ayo.. to…
(Pangeran belum berhasil dibangunkan)
Sri Minten : Maaf Raja & Ratu hamba tidak mampu membangunkan Pangeran.. .hamba menyerah….! da.. .da…
(pergi meninggalkan ruangan)

Ndang Muliho Sri
Tn. Wor-wor : karena peserta pertama gagal, maka kita tampilnya peserta
kedua…dari Ameriki Sirikit. Inilah….Britney Spriit

Toxic / Britney Spears
Britney Sprit : Hai good morning!! Raja the raja, Ratu the ratu. I jauh-
jauh datang dari Ameriki Sirikit naik air plane, kelas
ekonomi kesini untuk merayu Pangeran, dengan jogetan
saya yang aduhai….
Ratu : Silahkan Britney….??? Siapa yach… ? Oh Britney Sprit…

Toxic / Britney Spears
( Briney menari diiringi lagu, seluruh keluarga kerajaan menutup hidungnya karena “BURKET”)
Seluruh anggota Kerajaan: Hiii…Burket
Britney Sprit : Ih i’m sorry, Pm malu sekali….! ga’ pake’ rexona rong on, I
hanya pake” setengah on. I want go to home bye-bye….
Tn Wor-wor : Dikarenakan peserta kedua “BURKET” dan menyebabkan
pencemaran udara, maka ia dieliminasi….Dan kita tampilnya peserta ketiga Mrs. Rock!!!

Rocker j uga manusia / Seriues
Mrs. Rock : Permizi…Rajaa…(sambil memetalkan tangan) izinkan saya menyanyikan lagu “judi” karena lagu judi dilaknat oleh ALLAH, saya akan menyanyikan lagu “lari pagi” karena hari sudah siang tidak diperkenankan untuk lari siang….Bagaimana kalau kita “begadang” karena begadang tidak baik untuk kesehatan, dengan demikian saya tidak jadi menyanyi “summah na’udubillah”….Karena saya adalah rocker tobat (Mrs. Rock berjalan menuju sisi Pangeran) Pangeran…. bangun…..(menggaruk kepala karena berketombe)
Woooiiin….(memetalkan tangan) Bangun….!!! Ah sudahlah tidak bisa bangun, gue pulang aja lah….
(sambil memainkan gitar, menuju keluar lapangan)
Tn Wor-wor : Selanjutnya kita tampilnya peserta keempat, gadis manis
dari India. Acca.. .Acca.. .Acca

Khaviolin Kacaman / Various Artist
Pooja : Perkenalkan he…nama saya puja he…saya suka wedang
jahe….acca…acca…acca…saya kesini he…bawa air suci he…dari sungai gangga he…untuk Pangeran he…(Pooja membangunkan Pangeran dengan memercikkan air sungai gangga diwajah Pangeran) Bangun he…pangeran he… Acca…acca…Ayo bangun acca.. .acca.. .Aduh maaf Raja he.. .saya pulang aja he.. pangeran jelek he…mending Shahrukh Khan he….(pooja pergi meninggalkan ruangan)
Raja : Mengapa tidak ada yang bisa membangunkan putra kita
Ratu???
Ratu : Hanya peserta terakhirlah harapan kita ….
Tn Wor-wor : Selanjutnya.. .kita tampilnya peserta.. ..ada deh.. ..

Aku Perawan
Peri Jahat : He..he..he…meskipun tua-tua gini, aku masih perawan ting…ting… lagi…
(sambil berbicara pada penonton )
Peri Jahat : padahal mereka tidak tahu aku adalah peri jahat yang
mengutuk Pangeran. Aku menyesal Pangeran sangat tampan sekali ha…ha…3x dan aku pasti bisa membangunkannya. Dengan dua jurus andalanku

Mbah Dukun / Alam
(Perijahat menjampi-jampi Pangeran)
Peri Jahat : Karena jurus pertamaku tidak ampuh dan tidak
mempan…untuk membangunkan Pangeran….kalo begitu akan ku….keluarkan jurus pamungkasku
(Perijahat mencium pangeran “SENSOR” Pangeran bangun)
Pangeran : Aduh.. ..ada apa ini? Bibirku masam sekali
Peri Jahat : Hee….hee….ha….ha…berhasil ~ berhasil….hore..
Pangeran kamu akan jadi suamiku….karena aku satu-satunya orang yang bisa membangunkanmu
Pangeran : Apa…???!!! Tidak…. (pangeran berlari….)
Peri Jahat : Pangeran… .Aku masih perawaa.. .nnnn
Aku Perawan / Krisdayanti
D. KONSEP PENYUTRADARAAN
1. Konsep Cerita
Cerita “Aku masih Perawan” menggunakan konsep komedi kontemporer yang diangkat dari dongeng “SLEEPING BEAUTY” yang telah dimodiflkasi baik konsep cerita, setting, musik maupun zaman. Konsep cerita ini mengandung aspek budaya, sosial, humanisme dimana cerita ini menggambarkan budaya dari masing-masing daerah sedangkan unsur sosial dan unsur humanisme yang menggambarkan harmonisnya keluarga Istana serta kerukunan antar budaya yang berbeda.
Cerita “Aku masih Perawan” mengisahkan tentang pangeran yang disihir oleh peri jahat, karena peri jahat tidak diundang oleh keluarga istana dalam pesta turun tahta, alhasil Pangeran tertidur pulas. Terdapat tiga peri yaitu Peri Ngatan, Peri Gosip, Peri Ngisan dari ketiga peri tersebut tidak ada satupun yang dapat menggunakan sihirnya untuk membangun Pangeran. Melihat keadaan tersebut Raja mengadakan sayembara bagi perawan di negeri manapun yang dapat membangunkan Pangeran dari lelapnya sihir maka akan dijadikan Permaisuri bagi Pangeran. Perawan-perawan dari seluruh pelosok negeri berdatangan guna mengikuti sayembara, antara lain: Gadis Jawa dari Indonesia, Britney Sprit dari Ameriki Sirikit, cewek rocker dan Pooja dari India namun usaha mereka sia-sia belaka dan pada akhirnya peri jahat mengikuti sayembara untuk membangunkan Pangeran karena ia menyesal ternyata Pangeran yang disihir tampan sekali, hingga akhirnya Pangeran terbangun dan ia lari terbirit-birit karena tidak mau menikahi peri jahat yang sudah tua dan keriput namun peri jahat yang sudah tua dan keriput tetap mengejar dan meneriakkan “AKU MASIH PERAWAN”.
2. Konsep Panggung / Latar
Menggunakan Properti sebagai berikut:
a. Gorden yang diletakkan sebagai background
b. 2 kursi yang dihias sebagai Singgasana Raja & Ratu 13
c. Tangga kayu
d. Karpet
e. Tempat tidur Pangeran dilapisi spray
f. Tiga buah tanaman hias
g. Gambar kubah di karton
h. Mic yang diletakkan didekat pintu masuk dan Singgasana
3. Konsep Busana
Menggunakan busana Kerajaan dan sebagian disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh, diantaranya:
• Raja : Baju Raja + sabuk
• Ratu : Rok Canda + Baju hem
• Pangeran : Hem putih + Celana putih + Rompi emas
• Tn Wor-wor : Celana hitam + Hem putih + Rompi hitam + Mahkota
• Peri-peri : Sayap peri + rok canda + mahkota stiver + kaos putih
• Sri Minten : Sewek, kebaya, keramjang, selendang, ember
• Peri Jahat : Tongkat hitam, topi kerucut, jubah hitam, rok hitam
• Britney : Casual, celana panjang, rok mini, kaos, kunciran
• Rocker : Kaos tangan hitam, celana hitam, kaos hitam, gitar
• Pooja : Wig, kerudung, jari
4. Konsep Musik
Menggunakan konsep musik modern dan tradisional yang disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh, yakni:
• Mukadimah Roman Picisan / Dewa
• Crazy Frog Random / Motorola
• Snaggle / Motorola
• Yen ing tawang / Cipt. Anjarany• Toxic / Britney Spears14
• Rocker juga manusia / Seurius Band
• Khaviolin kacaman / Various artist
• Aku Perawan / KD
•Mbah Dukun / Alam
•Pemain Pendukung:
EPISODE DAUN KERING
Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma
ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE ISRAL
Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira-kira berusia 24 tahun) dengan menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya. Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.
SARJUN
Saudara-saudara, sampai hari ini, saya masih mempercayai Tuhan dengan segala skenario-Nya. Pergantian siang dan malam. Kehidupan dan kematian. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dalam semua itu kita melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Beragam kisah dilakoni dengan bermacam rasa yang terkadang menjelma benang kusut. Dibutuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala kesabaran yang kita miliki kian menipis atau sama sekali sirna, adakah orang lain akan datang menawarkan pertolongan? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?
Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.
Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!
Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya.
SARJUN
Bukan! Bukan karena menyangkut sisi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini melibatkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Alpin, adik saya…
Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.
SARJUN
Sejak kematian ibu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Alpin kuliah di Medan. Sejak itulah Papa tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu saya mengunjunginya tiap bulan. Alpin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Payakumbuh terbentang jarak yang tidak dekat, maka ia hanya pulang tiap liburan semester.
Tetapi saudara-saudara, kepulangan saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa! Betapa tidak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, tiba-tiba saya mendengar teriakan “tidak” yang sangat begitu keras. Saya yakin, itu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu mengintipnya lewat lubang kunci.
Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum mengejek
SARJUN
Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan Papa berdiri disamping meja telepon dengan kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat dibaca dari raut wajahnya.
Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku
SARJUN
Heran, tidak mungkin Papa begitu! Tidak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.
Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.
SARJUN
Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di sofa lain.
SARJUN
Oke! Silahkan Papa buru babi. Tapi, membeli anjing? Apalagi seharga dua juta lebih? Saya tidak setuju! Itu haram, Pa!
PAPA
Hehehehe… jika tidak dibeli Papa dapat anjing dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi? Atau anjing jadi yang dibagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu tidak apa-apa asal tujuannya baik. Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? Banyangkan babi-babi yang temok itu diburu dengan anjing kurap, heh, heh… ia akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan, petani tidak akan makan, kamu rela petani mati kelaparan?
SARJUN
Tapi Tuhan tidak pernah menghalalkan sesuatu dari yang haram
PAPA
Bukan Tuhan namanya kalau sekaku itu. Bukankah kamu sering bilang: adh-dharuratu tunbihul mahzhurat?
SARJUN
Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?
PAPA
Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?
SARJUN
Anjing adalah anjing. Babi adalah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!
PAPA
Tuhan itu cerdas, nak. Ia tidak akan ciptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis. Hehehehe…
Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku
SARJUN
Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.
Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya
SARJUN
Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi tidak masuk akal?
Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini tidak masuk akal!
Apalagi setelah itu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Tiba-tiba saya dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya. Lalu saya dipeluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!
Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah. Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.
SARJUN
Dalam pelukan saya, tangis papa tiba-tiba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya tinggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke belakang.
Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.
Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.
SARJUN
Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, tidak rapuh apalagi cengeng. Saya punya banyak alasan untuk anggapan ini.
Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon didatangkan dari Jawa. Tetapi yang saya temukan bukan titik lemah, melainkan noda hitam yang dicapkan kepada Papa. Ah, saya tidak tahu bagaimana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan, buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!
Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah dimana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti melawan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di jemur oleh anak buah Papa untuk saya linting. Saya kemudian mencari Papa.
Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, tidak menangis. Rasa iba tiba-tiba menjalar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba tiba-tiba tehalau oleh benci.
Seperti tidak tejadi apa-apa, saya menyalakan lintingan tadi, menghisapnya dalam-dalam dan menghempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan mengayunkan tamparan keras ke arah saya.
PAPA
Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!
SARJUN
Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!
Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.
SARJUN
Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul tidak masuk akal. Saya lalu menaruh segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya.  Tetapi Papa tetap saja terisak-isak bersama tangisnya. Tiba-tiba, Papa menyebut-nyebut nama Alpin. Tentu saja saya terkesiap olehnya. Alpin? Ada apa dengan Alpin? Saya jadi bingung saudara-saudara! Heran!
Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya
SARJUN
Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak-isak adalah karena Alpin. Alpin adik saya. Ia di tahan polisi. Alpin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang lain yang tidak rela anaknya menghisap ganja!
Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu juga, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu. Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-sungguh muak!
Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya
SARJUN
Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu juga. Saya tak sanggup menghadapi kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk tidak menemui Papa lagi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. Saya tak bisa memberinya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahlah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin… sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.
Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Bebannya berat
*    *    *
SELESAI
KONSEP PEMENTASAN
Drama ini diilhami dari cerita ” Legenda Batu Menangis ” yang bersal dari Sulawesi Utara, karena kami menganggap bahwa dalam cerita tersebut banyak terdapat nilai – nilai kemanusiaan yang dapat kita tanamkan untuk anak tingkat sekolah dasar, misalnya sikap untuk tidak durhaka terhadap orang tua, sikap untuk tidak berbohong, dan menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua tidak akan pernah lekang sampai kapanpun.
Dalam drama ini kami telah melakukan banyak perubahan – perubahan tokoh dari cerita yang sebenarnya dan kami telah memodifikasi cerita ini hingga hampir mirip dengan kisah – kisah kehidupan nyata seperti sekarang ini.
SINOPSIS CERITA
Ada sebuah keluarga sederhana yang tinggal di suatu desa . keluarga tersebut terdiri dari seorang Ibu dan dua orang anaknya yaitu Joko dan Anik . Meskipun hidup dalam keluarga yang sangat sederhana, Joko tingkah laku Joko setiap harinya seperti orang kaya . Tak jarang terjadi pertengkaran dirumah tersebut hanya gara – gara lauk pada saat makan. Namun Ibu Joko dan Anik (kakak Joko) selalu bersabar menghadapi tingkah laku Joko, hal itu dikarenakan Joko merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga tersebut, apalagi setiap kali beradu mulut Joko selalu mengancam akan pergi dari rumah apabila keinginannya tidak dituruti oleh Ibunya .
Joko mempunyai seorang pacar anak orang kaya yaitu anak juragan sapi dari desa sebelah. Hal tersebut diceritakan Joko terhadap Ibunya . Betapa terkejutnya sang Ibu pada saat Ibunya mendengar dari Joko bahwa dia telah berbohong dengan mengatakan bahwa dia adalah anak orang kaya untuk mendapatkan gadis tersebut . Dan yang lebih menyakitkan lagi Joko menyuruh sang Ibu untuk memanggil Joko tuan pada saat Joko bersama dengan sang kekasih, namun sang Ibu masih dapat bersabar .
Suatu hari pacar Joko meminta Joko untuk melamarnya dan Jokopun menyanggupinya dengan segala syarat yang diajukan oleh sang pacar yaitu Joko harus menyerahkan uang sebesar Rp.20.000.000,- kepada calon mertuanya . kejadian ini membuat Joko bingung dan kembali Joko mendesak Tbunya untuk menyediakan uang tersebut dalam waktu dua hari. Dan Joko tidak mau tahu bagaimana caranya sampai-sampai Joko menyuruh Ibunya Untuk menjual tanah warisan dari bapaknya . dan lagi-lagi sang Ibu tidak kuasa untuk menolak karena Joko mengancam akan pergi dari rumah apabila keinginannya tidak segera di penuhi .
Dan sesuai dengan waktu yang telah disepakati, Jokopun melamar pacarnya dengan memenuhi syarat yang telah diajukan. Pada saat melamar Joko membawa sang Ibu yang telah disuruh untuk mengaku sebagai pembantunya . dan pada saat pelamaran tersebut sang calon mertua Joko bertanya kepada Joko tentang orang tua Joko dan Joko menjawab bahwa orang tua laki-lakinya telah meninggal dunia pada saat Joko masih kecil. Calon mertuanya bertanya kembali tentang Ibu Joko, Joko pun kebingungan untuk menjawab, dan setelah ditanya beberapa kali oleh calon mertuamya maka Jokopun menjawab bawwa Ibunya telah meninggal dunia . seketika itupun Ibu Joko tidak dapat menahan kesabaran lagi dan secara tidak sengaja mengutuk Joko menjadi patung .
KARMA
Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorag Ibu dan dua orang anaknya yang bernama Anik dan Joko. Mereka hidup dalam keadaan yang sangat sederhana .
Mbok : (sambil membawa nasi) ” Anik, lauknya bawa kesini, itu tadi yang Mbok letakkan didekat kompor .”
Anik : (sambil membawa lauk) ” Iya Mbok ” .
Mbok : (sambil menata makanan) ” Ayo ditata dulu makanannya setelah itu panggil adikmu Joko, kita sarapan bersama. “
Anik : ” Joko masih mandi, Mbok “
Sesaat kemudian Jokopun datang dan duduk diantara Mbok dan Anik
Joko : ” Sarapannya apa, Mbok ? “
Mbok : ” ya seperti biasanya toh Jok, tahu sama tempe . “
Joko : (dengan suara keras) ” Apa tahu clan tempe lagi kata Mbok ? Aku kan bosan mbok, tiap hari makan tempe dan tahu . Pokoknya aku nggak mau. “
Anik : ” Sudahlah Jok diakan saja . Yang kita punya kan cuma ini . “
Joko : ” Mungkin Mbak bisa makan seperti ini setiap hari, tapi aku nggak bisa Mbak. “
Mbok : ” Kamu ini mbokya ngerti toh , Mbok ini kerjanya apa ? Mbokkan Cuma buruh tani . Kamu juga tahu sendiri kalau beberapa hari ini sawahnya kebanjiran. “
Joko : ” Mbokkan bisa cari kerja yang lain, nyuci baju orang kek, jadi buruh pabrik kek, atau yang lainnya . “
Mbok : ” Kamu iti gimana toh Jok, memang cari kerja itu gampang.”
Joko : ” Ya sudah Aku makan tapi Aku nggak mau kalau besok lauknya tahu dan tempe lagi “
Akhirnya merekapun sarapan bersama. dan tiga puluh menit kemudian …….
Mbok : ” Anik, tolong piring-piringnya bawa kedalam . “
Anik : ” Baik Mbok “
Mbok : ” Jok, Mbok perhatikan pagi-pagi seperti ini kamu sudah rapi , mau kemana ? “
Joko : ” Itu Mbok pacarku mau kesini, Mbok ! “
Mbok : ” jadi kamu punya pacar toh . Anak siapa ? “
Joko : ” Itu lho, anaknya juragan sapi dari kampung sebelah. “
Mbok : (sambil terkejut) Apa ….. ? Kamu pacaran sama anaknya juragan sapi itu. Memang dia mau pacaran sama kamu yang anaknya buruh tani ?
Joko : (bingung) ya aku tidak ngomong kalau aku ini anaknya buruh tani . Aku bilang aku adalah anaknya orang kaya. “
Mbok : (sambil mengelus dada) Astaghfirullah Joko. kenapa kamu berbohong seperti itu ? “
Joko : (dengan nada agak kerat) “Mbok, aku lakukan ini demi kita Mbok. Memangnya, Mbok nggak senang kalau Mbok punya memantu orang kaya?”
Mbok : “Ya, Mbok senang punya menantu orang kaya tapi jangan begitu caranya. Nati kalau pacarmu tahu kalau kamu orang miskin bagaimana terus bagaiaman?”
Joko : “Ya, aku ngggak tahu”
Mbok : “ Kamu itu bagaimana toh Jok?”
Joko : “Oh ya nanti pacarku mau datang ke sini, dan aku mau Mbok jangan memanggil aku “anak” tapi Mbok harus memanggil aku “tuan” dan Mbok harus mengaku sebagai pembantuku.”
Mbok : (terkejut) “Masya Allah Joko, kamu kok tega sama Mbok, Mbokkan orang tua kamu, masak kau menyuruh Mbok memanggil kamu tuan.”
Joko : (Sambil berdiri) “aku nggak mau tahu pokoknya Mbok harus seperti itu, kalau Mbok nggak lebih baik aku pergi dari sini. Aku sudah bosan hidup sebagai orang miskin, rumah yang sempit dan nggak punya apa-apa”
Mbok : (sambil memegang tangan Joko) ” Ya sudah , ya sudah nnti kalau pacar kamu datang Mbok akan berpura – pura menjadi pembantu kamu, tapi kamu j angan pergi kamu kan anak laki-laki Mbok satu-satunya . Ya sudah Mbok tinggal ke dapur dulu . “
Joko modar-mandir menanti kedatangan sang pacar dan sesaat kemudian pacar Jokopun datang .
Ariska : (dengan nada manja) ” Sayang, tahu nggak aku sudah nunggu lama disana . Untung tadi aku ketemu sama Joni teman kamu. Katanya kamu suruh aku kesini . Ini rumah siapa sich sayang ?”
Joko : ” Oh ……….. ini rumah pembantuku, aku kesini menjenguk anaknya yang sedang sakit. “
Tiba-tiba ibunya Joko keluar
Mbok : ” Oh …… ada tamu toh .
Ariska : ” Eh !Dia siapa sayang ?
Joko : ” Oh ini ! dia adalah pembantuku yang aku ceritakan tadi
Mbok : ” Iya, saya adalah pembantu tuan Joko . Tuan kesini menjenguk anak saya yang sedang sakit . “
Joko : ” Oh ya ! sayang kamu mau minum apa ? “
Ariska : ” E…. ada orange jus gak yang ?”
Joko : ” Aduh sayang di rumah pembantu masak ada orange j us!”
Mbok : ” Benar Non! Saya ini kan hanya orang kampungyang ada Cuma air putih.”
Ariska : ” Ya udah deh air putih aja.”
Joko : ” Cepat Mbok ambilkan!”
Mbok : ” Baik Tuan.”
Setelah Si Mbok masuk, Joko dan Ariska berbincang – bincang di depan rumah.
Ariska : ” Ngomong – ngomong aku harus duduk di mana?”
Joko : ” Di sini aja ya Yang?”( Sambil menunjuk tikar)
Ariska : ” Apa??? Masak aku disuruh duduk di tempat yang kotor ini?”
Joko : “Maklumlah Yang, ini kan rumahnya pembantu jadi umtuk sementara duduk di sini aja!”
Ariiska : ” Ya dah deh kalau begitu.”
Si Mbok keluar dangan membawa dua gelas air putih.
Mbok : ” Ini Non airnya, silahkan di minum.”
Joko : ” terimakasih Mbok . ya sudah silakan Mbok masuk kedalam . “
Setelah Mbok masuk kedalam, Joko dan Ariska melanjutkan kembali percakapannya.
Ariska : ” Yang, kita kan sudah lama pacaran. Kapan sayang melamar aku ? Mami sudah sering tanya. “
Joko : (sambil berfikir) ” E… Bagaimana kalau bulan depan ? “
Ariska : ” Tapi Yang, Mami kan mau pergi keluar negeri . “
Joko : ” bagaimana kalau minggu depan ? “
Ariska : ” begini Yang, kata Mami 2 hari lagi Sayang harus melamar aku. “
Joko : (dengan terpaksa jokopun menyetujuinya ) ” ya sudah, 2 hari lagi aku melamar kamu. “
Ariska : ” Tapi Yang, kata Mami ada syaratnya. “
Joko : ” Apa syaratnya Sayang ? “
Ariska : ” Saat melamar, sayang harus membawa uang sebesar Rp. 20.000.000,-”
Joko : (terkejut)” a…… pa ? dua puluh juta ?”
Ariska : ” Sayang kenapa kok terkejut ! uang dua puluh juta kan kecil buat sayang
Joko : (berpura – pura ) ” Ah , siapa yang terkejut . kalau hanya uang dua puluh juta itu kecil buat aku . “
Ariska : ” Jadi bagaimana Yang ? Sayang jadi kan melamar aku ?”
Joko : ” Ya pasti dong sayang “
Ariska : ” Ya udah ya , aku pulang dulu Yang . Aku masih ada j anj i sama teman – teman mau pergi ke Mall. Da……… (sambil melambaikan tangan)
Joko : (sambil melambaikan tangan) ” hati – hati dijalan ya. “
Setelah Ariska pulang, Joko masuk kedalam rumah dengan perasaan yang bingung. Melihat joko yang seperti itu si mbok juga ikut bingung.
Mbok : “Ada apa to jok, kok mbok lihat sepertinya kamu bingung sekali ?”
Joko : ” Gini mbok, orang tua Ariska minta aku melamar Ariska dua hari lagi”
Mbok : “Kamu mau melamar pakai apa jok ? kamu kan belum kerja”.
Joko : “Mamanya Ariska juga minta uang Rp.20 juta buat melamar anaknya”.
Mbok : “Apa??? 20juta??? Kita dapat uang sebesar itu dari mana ? kita kan hanya orang miskin, buat makan saja kita susah. Apalagi 20 juta !”
Joko : “Pokoknya aku gak mau tahu. Dalam dua hari mbok harus menyiapkan uang 20 juta untuk melamar pacarku”.
Mbok : “Masyaallah jok, ya gak mungkin toh mbok dapat uang 20juta dalam dua hari”.
Joko : “Tapi kita kan masih punya tanah peninggalan bapak yang ada dibelakang rumah itu mbok”.
Mbok : “Jok, itu kan peninggalan bapakmu satu-satunya. Masak kamu tega nyuruh mbok menjualnya”.
Joko : “Sudahlah mbok jual saja. Kalau mbok gak mau jual lebih baik aku pergi saja dari rumah”.
Mbok : “Jangan gitu toh nak, kita kan sudah gak punya apa-apa lagi”.
Joko : “Pokoknya aku gak mau tahu, lebih baik aku minggat kalu mbok gak mau menjualnya”.
Mbok : ” Ya udah jok, nanti mbok pikir-pikir dulu. “
Joko : “Kalau gitu aku keluar dulu”.
Karena mendengar keributan antara mbok dan adiknya, Anikpun keluar.
Anik : “Ada apa toh mbok aku dengar dari dalam kok rebut saja”.
Mbok : “Adikmu ini lho, katanya dia mau melamar pacarnya dan calon mertuanya minta uang sebesar 20 juta. mbok bingung harus cari uang dimana. Malahan dia nyuruh mbok jual tanah peninggalan bapakmu”.
Anik : “Terus mbok mau ?”.
Mbok : “Lha gimana lagi nik, adikmu ngancam mau minggat dari rumah kalau mbok gak jual tanah. Dia kan anak-anak laki-laki mbok satu-satunya”.
Anik : (dengan nada kesal) “Mbok sih selalu saja menuruti keinginan joko”.
Mbok : “Mbok sudah gak punya cara lagi nik. Mbok bingung ! !”.
Anik : “Ya sudah, terserah mbok saja. Anik masuk dulu mau nyuci piring mbok”.
Dengan merasa terpaksa sekali, maka ibu jokopun menjual tanah peninggalan almarhum suaminya. Ibu joko akhirnya pergi kerumah Bu Anis juragan kaya di desanya yang biasa membeli tanah.
Bu Anis : “Jeng…..aku baru beli kalung berlian lho bagus banget !”
Bu Hefni : “Iya to bu….., mana aku pengen lihat ! aku kemarin juga baru dibeliin cincin permata sama suamiku dari Korea Selatan”.
Ibu joko : “Permisi Bu Anis….., kulonuwun ?!”.
Bu Anis : “Oh …monggo, lho! Bu Joko, mari masuk bu. Silahkan duduk, silahkan bu !”.
Ibu joko : “Iya bu…terimakasih”.
Bu Anis : “Kok tumben bu joko. Ada perlu apa ? ndak biasanya loh ibu main kerumah saya…”.
Ibu joko : “Oh …iya bu, begini…. maksud kedatangan saya kemari tadi pertama mau silaturrahmi dan yang kedua mau…. anu…..saya dengar ibu bias membeli tanah, dan saya bermaksud akan menawarkan tanah saya dibelakang rumah itu untuk saya jual kepada ibu”.
Bu Anis : “Iya ta bu… ibu apa bawa surat-surat tanahnya ?”.
Ibu joko : “Ini bu !” (sambil menyerahkan surat-surat tanah)
Bu Anis : “Iya, saya periksa dulu ya bu !” (memeriksa surat-surat tanah). Terus ibu mau menjual tanah ini berapa bu ?”.
Ibu joko : “Emmm…… kalau Rp.25.000.000 bagaimana bu ?”.
Bu Anis : “Kok Rp.25.000.000 to bu! Kalau Rp.18.000.000 bagaimana?”.
Bu joko : “Kok Rp.18.000.000to bu, ya udah kalau Rp.20.000.000 saja bagaimana bu… yang penting jangan kurang dari Rp.20.000.000 ya bu…. bagaimana?”.
Ibu Hefni : “Sudahlah jeng…. iya saja !”.
Ibu Anis : “Ya sudah bu…baiklah, saya beli Rp.20.000.000. sekarang saya ambilkan uang dulu kedalam ya bu !”.
Ibu Hefni : ” Bu…. kok tanahnya dijual, memangnya ada keperluan apa to bu! Kelihatannya mendadak sekali!”.
Bu j oko : ” Hemmm… iya bu, ada keperluan keluarga. Hem…”
Ibu Anis : (keluar dari kamar) ” Ibu joko, ini uangnya Rp.20.000.000, coba dihitung dulu bu !”.
Bu joko : “Ndak bu…. saya percaya kok sama ibu. Terimakasih….kalau begitu saya pamit dulu ya bu. Terimakasih…….”.
Bu Anis : “Oh iya bu, kok tergesa-gesa, baiklah bu…. saya juga terimakasih. Nanti kalau saya butuh surat-surat keterangan yang lain bolehkan saya main kerumah ibu ?”.
Bu joko : “Oh iya…. silahkan bu. Ndak apa-apa ! Bu Hefni juga boleh main kegubuk saya yang reot itu. Ya sudah bu… saya pamit dulu, terimakasih. Mari…….. “.
Bu Anis : “Iya mari-mari…..hati-hati ya bu !”.
Sementara itu, suasana dirumah Ariska pacar Joko begitu sibuk mempersiapkan acara lamaran. Para pembantu sibuk bersih-bersih dan menata rumah.
Yu : “Aduh…..kerja kok terus, sampek coklek pinggangku ini rasanya. Eh nem nem, sini…..tak kasih tahu!”. (kemudian duduk)
Nem : “Ada apa to Yu…..kok semangat banget”. (sambil meletakkan sapunya dan ikut duduk).
Yu : ” Eh kamu tahu ndak, non ariska itu hari ini mau dilamar juragan kaya katanya guuuuanteng lho!”.
Nem : “Masak sih Yu! Aku kok ndak tau !”.
Yu : “iya! Kamu ini bagaimana to nem nem, masa sama yang terjadi pada juragan kita kamu ndak tahu? Wong tetangga-tetangga yang beli sayur tadi semua membicarakan itu kok ! katanya sih, wajahnya seperti david Beckham pemain sepak bola itu lho nem”.
Nem : “Da….. David Beckham itu sopo to Yu !”.
Yu : “Gusti allah nem nem, makanya kamu itu j adi orang mbok ya nonton TV. Walau kita pembantu tapi mbok yo yang sedikit modern gitu po’o. kaya aku ini !”. (sambil berpose lenggak-lenggok)
Ibu Ariska : “Aduh,duh,duh,duh…… wong disuruh kerja kok ya ngerumpi! Kalian berdua itu piye to Yu, Nem! Ayo coba kamu Nem dah siap pa belum makananya di dapur ?”
Nem : “Belum ndoro putri…..(sambil ketakutan)
Ibu Ariska : “Kok belum piye to Nem, lihat ini sudah jam berapa ? calon besanku tuh mau dating. Ayo cepat sana kamu siapkan makanannya! Dan kamu Yu, bersih-bersih didepan sana. Nanti kalau tamunya dating kasih tau saya ya”.
Yu & Nem : “Inggih ndoro putri……..”.
Ida : “Ada apa to ma…..kok rebut aja sendiri dari tadi, kok ngomel-ngomel terus ida perhatikan”.
Ibu Ariska : “itu loh Yu sama Nem, wong disuruh kerja kok malah ngerumpi”.
Ida : “Iya tuh ma, pembantu kita itu senangnya ngegosip melulu. Malah kemarin itu yang namanya Nem itu malah pacaran dipasar. Bukannya beli sayur malah kencan sama tukang ojek di depan itu loh ma”.
Ibu Ariska : “Oh iya ida , coba kamu lihat mbakmu dikamar. Dandannya udah selesai apa belum, dari tadi dandan kok belum selesai juga. Ayo sana….”.
Ida : “Iya-iya ma…..(sambil agak sewot)
Ariska : ” Mama…..aduh mamaaku udah kelihatan lebih cantik belum ma? Tu bajuku…. antingku juga bagus kan ma?”
Ibu Ariska : “Iya-iya…. anak mama cuuanntik sekali, memang sudah saatnya dilamar. Mbakmu cantik kan ida ? “.
Ida : “Iya cantik!”. (sambil cemberut karena sewot & iri)
Yu : “Maaf ndoro putri……. diluar tamunya sudah datang”.
Ibu Ariska : “Kamu itu piye to yu, kalau tamunya datang ya disuruh masuk to ! ayo cepat suruh masuk !”.
Yu : “Inggih…inggih ndoro putri, inggih!” Setelah tamunya masuk…….
Ariska : “Sayang……. kamu sudah datang ya. Kami semua udah lama nunggu kamu, kok telat sihhh…”.
Joko : “Iya sayang maaf…… maklum Surabaya, macet!”.
Ariska : “Oh…. begitu. oh ya ma ini loh yang namanya joko pacarnya riska”.
Ibu Ariska : “Oh…. ini to yang namanya nak jojko, silahkan duduk nak joko! (sambil berjabat tangan kemudian menyilahkan tamunya duduk) , lho, ini siapa nakjoko?”.
Joko : “Ehmm…ini..ini pembantu saya ma..”.
Ariska : “Iya ma, ini pembantunya sayang joko yang Riska ceritakan kemarin waktu anaknya sakit. Mama masih ingat kan ?”.
Ibu Ariska : “Ohh…. iya mama inget”.
Joko : “Iya ma…..betul sekali. Ma, maksud kedatangan saya kemari mau melamar Riska ma… “.
Ibu Ariska : “Oh… iya. Ibu sih ndak apa-apa, tapi apa kamu sudah membawa persyaratannya?”.
Joko : “Iya sudah…ini ma!” (sambil meminta uang kepada ibunya yang disuruh berpura-pura jadi pembantunya lalu menyerahkannya kepada calon mertuanya)
Ibu ariska : “Sebentar ibu hitung dulu ya nak! …..aduh, udah wis ibu percaya. Ayo ida kamu saja yang hitung dikamar mama”.
Ida : “Iya ma.. . !”. Ibu Ariska : “Yu… Nem… !” Yu & Nem: “Inggih ndoro putri….”
Ibu ariska : “ayo kamu buatkan minum 3 jus jeruk dan camilannnya bawa kesini ya. Cepat!”
Yu & Nem: ” kok 3 ndoro, terus yang itu bagaimana?”(sambil menunjuk pada ibunya joko)
Ibu Ariska : “udah cepet sana! Kalau disuruh itu gak usah banyak Tanya-tanya!” Yu & Nem: “Inggih ndoro..”
Ibu ariska : “Oh iya…orang tuanya nak joko kemana? Kok ndak ikut, mama kira mereka ikut. Kok malah pembantunya yang diajak”.
Joko : “Oh…. papa saya sudah meninggal ma… !” Ibu Ariska : “Oh sudah meninggal, maaf ya nak joko!”
Yu dan Nem masuk keruang tamu sambil membawa minuman dan camilan. Kemudian ibu ariska, ariska dan joko menikmati hidangan yang disajikan sementara ibu joko dibiarkan duduk dilantai tanpa menikamti apapun juga.
Ibu Ariska : “Lalu mamanya nak joko sekarang dimana?”
Joko : “Ehm…. mama …mama …(sambil melihat ibunya dengan bingung), mama saya juga sudah meninggal ma…”
Ibu joko : (langsung berdiri dan menghadap pada joko) joko! Joko anakkku! Mbok masih sehat dan sekarang masih berdiri di hadapanmu kamu bilang mbok sudah meninggal. Astaghfirullah…joko. Aku mbokmu joko, yang mengandung kamu, melahirkan kamu dan sekarang dihadapanmu kamu bilang sudah mati joko !”
Ariska : (saat joko kebingungan) sebentar…. sayang ini siapa sich! Kamu bilang pembantu kamu, tapi kok dia bilang dia ini ibunya kamu. Lalu yang benar yang mana?”
Joko : “Tenang sayang ….yang benar ini bukan ibuku tapi pembantuku. Dan ibuku sudah meninggal”.
Ibu joko : “Durhaka kamu joko !ini balasan kamu joko. Aku mbokmu joko!”
Joko : “Enak saja !kamu bilang kamu ini ibuku ?” (sambil mendorong ibunya hingga jatuh tersungkur kelantai)
Ibu joko : (sambil berusaha berdiri dan membelakangi Joko) Durhaka kamu joko! benar-benar kamu anak durhaka! Ini balasan kamu pada ibumu sendiri ?daripada mbok melihat anak seperti kamu lebih baik mbok melihat patung !»
Joko : (tiba-tiba saja joko terjatuh dan kakinya tidak bias digerakkan) “Aduh kakiku! mbok…mbok…ampun mbok…ampun, maafkan joko mbok…”.
Ariska : (sambil menangis melihat joko) “Ada apa sayang, kamu kenapa? Kakimu kenapa ?ma …ini bagaimana ma…?”
Ibu ariska : “sudahlah nak…mama juga nggak tahu”
Ibu joko : “Sekarang kamu mau mengakui aku sebagai mbokmu dihadapan mereka ! sekarang kamu mau! (sambil marah karena sakit hati)
Joko : (sambil memohon-mohon) “Ampun mbok…ampun!”
Ibu joko : ” tidak joko, ibu tidak akan memaafkan kamu. Ibu sudah terlanjur sakit hati! Ini memang karma yang harus kamu terima!”
Dan akhirnya Jokopun menjadi patung.
Ibu Joko : (berbalik menghadap Joko) ” Jok , Jok, Jok kamu kenapa nak! Ayo bicaralah pada ibu , ya Allah Joko ! mengapa kamu jadi seperti ini nak? astaghfirullah apa yang telah aku katakan, aku telah mengutuk anakku sendiri.
Dan Ibu Jokopun hanya dapat bersimpuh menangis menyaksikan anaknya yang menjadi patung
Sinopsis
Pagi itu sebelum berangkat kekampus Yulia menemui kakeknya yang sedang duduk santai sambil membaca koran. Yulia mencoba merayu kakeknya agar hari ulang tahunnya sabtu ini dirayakan, dan dia pun berhasil. Kakek mengijinkan perayaan hari ulang tahun Yulia itu namun Diah, sepu[u yulia tidak menyetujui hal itu karena dia merasa iri dengan Yulia.
Hari ulang tahun Yulia pun tiba, semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Tamu-tamu mulai berdatangan dan Yulia tampak anggun dengan gaunnya. Pestanya pun meriah. Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dan suasana menjadi hening. Semua mata yertuju pada kakek yulia yang menggelepar-gelepar dilantai. Cairan putih pun keluar dari mulutnya. Melihat hal itu Yulia langsung berteriak sambil berlari mendekati kakeknya. Tak sepatah kata pun sempat keluar dari mulut kakeknya, karena detak jantungnya telah berhenti.
Detektif Patricia dan kapten yang kebetulan hadir di pesta itu segera mengamankan lokasi dan mengusut kasus tersebut. Karena insting dan kecerdasan detektif patricia, pelaku pembunuhan Kakek Yulia pun terungtkap.
Pelaku pembunuhan itu tidak lainadalah Wulan, kakak yulia. Yang juga adalah cucu kakek itu sendiri. Konon alasan wulan membunuh kakek adalah karena wulan tidak sengaja telah menemukan buku harian ayahnya. Disana tetulis bahwa kakaknya telah merebut harta kekayaan yang seharysnya dimiliki keluarga wulan. Bahkan bi’Inah pembantu keluarga sasto itu sebenarnya adalah adaik kandung wulan yang tidak diakui keberadaannya karena cacat dikakinya. Namun yang ada dipikiran wulan itu salah. Sebelum acara ulang tahun itu kakeknya telah merubah surat wasiatnya. Disana tertulis bahwa seluruh harta kekayaan keluarga sastro akan jatuh ketangan Bi Inah sebagai pewaris tunggal. Sedangakn yang lainnya hanya mendapatkan rumah dan mobil.
Setelah mengetahui hal itu Wulan pun sangat menyesal atas perbuatannya. Namun apalah yang bisa ia lakukan , Ia hanya bisa menangis dan meyesali segala perbuatannya itu dalam Penjara.
1. TEKNIK PENYUTRADARAAN
a) Naskah Drama
Naskah drama yang berjudul “Sesal” ini adalah merupakan gubahan dari naskah drama yang berjudul “ Pembunuh”
Babak I
Dalam babak pertama ini menceritakan sedikit karakter tokoh-tokoh yang ditampilkan dan dibabak pertama ini pula ditampakkan suasana di rumah keluarga Sastro.
Babak II
Dalam babak kedua ini adalah inti dari cerita drama ini. Konflik,tangis, penyesalan, dan tawa riang ada di dalamnya sehingga karakter-karakter yang berlawananpun tampak.
Keluarga Sastro adalah salah satu keluarga yang terpandang di Bandung. Selain rumah yang megah, keluarga saaastro juga mempunyai perusahaan yang tersebar di pulau jawa. Dirumah megah itu hanya tinggal seorang kakek, tiga cucunya dan seorang pembantu yang selalu setia mengabdi dikeluarga tersebut. Namun kehidupan dalam keluarga itu tidaak semegah dan seindaah rumahnya. Pertengkaran, rasa iri dan dendam selalu menyelimuti kehidupan mereka….
Babak 1
Pagi itu….., sebelum yulia berangkat ke kampus, dia menemui kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran
Yulia :Pagi kek…….. gimana kabar kakek hari ini? Baik kan?
Kakek….. kakek hari ini keliahatan seger banget, pasti…….. kakek lagi seneng ya?
(sambil bejalan mendekati kakek)
Kakek :Cucu kesayangan kakek yang satu ini, kalau udah ngerayu pasti ada maunya, ya kan?
Yulia :Kakek kok gitu sich, nggak suka kalau Yulia nemeni kakek disini, ya sudah….. kalo gitu yulia pergi aja. (sambil berpaling akan meninggalkan kakek)
(Kakek meletakkan koran sambil menarik tangan Yulia)
Kakek :E…e…e…e, kok ngambek gitu? Iya-iya kakek ngaku salah. Baiklah, untuk menbus kesalahan kakek kamu boleh minta apa aja asalkan kakek bisa memenuhinya.
Yulia :Bener kek? (dengan nada terkejut sambil menatap kakek)
Kebetulan donk kek, sabtu besuk kan Yulia ulang tahun. Gimana kalau pesta ulang tahun Yulia dirayain, nanti yang kita undang hanya keluarga deket sama staff kantor aja, gimana kek? (sambil memegang tangan kakek)
Kakek :Boleh-boleh (sambil mengangguk-angguk)
Diah yang kebetulan mendengar pembicaraan mereka langsung keluar dari kamar menuju ruang tamu dengan wajah cemberut tanda tak setuju
Diah :Tidak bisa!!! Dirumah ini tidak akan pesta apapun! Terutama ulang tahunmu Yulia! (sambil menunjuk Yulia).
Kakek!!!
Cucu kakek kan bukan diah aja, kakek yang adil dong, jangan pilih kasih
(dengan nada membentak)
Kakek :Diah!!! Berperilakulah sopan sedikit pada orang tua,
membentak-bentak, apa itu yang diajarkan orang tuamu?
(sambil berdiri dengan nada agak tinggi)
Diah :Tapi kek…
Kakek :Ah sudahlah, kakek capek mendengarkanmu!
Bi’ Inah ambilkan kopi !
(sambil berdiri)
Bi’ Inah :Baik tuan
Yulia :Eh kek, pestanya jadi kan?
Kakek :Iya, nanti akan kakek atur dengan kakakmu Wulan. Sekarang, kamu berangkatlah ke kampus, nanti telat.
Yulia :Baik kek….. Yulia berangkat ya…..
Da kakek …….
Diah :Kek, lalu bagaimana dengan aku?
Kakek :Kamu ada masalah apalagi sih?
Diah :Gini kek, sekarang kan lagi ngetrend nih kuliah di luar negeri, nah Diah juga pingin kek?
Kakek :Jadi kamu minta dikuliahkan ke luar negri, gitu?
Kenapa tidak minta sama bapakmu?
Diah :Kakek ….. kakek tahu sendiri kan, papa tuh kerjanya nggak menentu, kadang ada job kadang nggak.
Wulan memasuki ruangan ….
Wulan :Pagi kek…. Kakek memanggil saya?
Kakek :Oh iya, begini aku ingin kamu atur pesta ulang tahun adikmu Yulia sabtu ini.
Wulan :Baik kek, siapa saja yang kita undang?
Kakek :Semua staff kantor dan jangan lupa detektif Patricia, karene ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Sudah jelas?
Wulan :Iya kek, kakek tidak sarapan? Ayo kita sarapan sekalian
Kakek :Ya.….ya
Kakek dan Wulan berlalu memasuki ruangan dan meninggalkan Diah
Diah :Kakek, lalu aku bagaimana? Kakek….. kakek…..
Huh … sebel, semua orang disini menyebalkan! Yulia….. awas kamu!!! Tunggu saja, pesta ulang tahunmu pasti kacau! Kakek sudah pilih kasih, aku pasti akan membalas sakit hati ini!
(dengan raut muka marah)
Lalu Diah pun pergi meninggalkan ruangan.
Babak 2
Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba, semua orang sibuk mempersiapkan pelaaaaksanaan acara itu. Yulia tampak anggun dengan gaun yang dikenakannya.Senyum keceriaan yang terpancar dari bibirnya menambah elok wajah gadis itu….
Malam itu … mulai para undangan mulai berdatangan dan mereka mengucapkan selamat pa Yulia
Pengiring….
Tamu :Selamat ulang tahun Yulia
Yulia :Makasih, makasih (sambil berjabat tangan)
Tika :Met ultah ya book…. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan aku doain you cepet married sama pak GM
Yulia :Thanks ya Tik…. Kamu baik deh, ntar aku bakal inget ma kamu pas aku bulan madu ke Amrik, oke!
Tika :Kamu tahu aja mau gue. Eh…. Denger-denger calon suami sohib gue ini naksir ama kak Wulan ya?
Yulia :Ah kamu, jangan ngomongin itu lagi deh, bosen aku ngomonginnya.
Tika :Iya deh…..
Eh lihat-lihat, siapa cewek itu? Anggun banget…. Boleh nih kenalan, kesana dulu ah…. Bye Yulia, muach muach…..
Tika menghampiri detektif Patricia bermaksud untuk memperkenalkan diri
Tika :Malem nona detektif, selamat datang di ulang tahun temen saya, Yulia.
Anda pasti detektif terkenal yang sering muncul di TV itu kan?
Pasti tidak salah lagi, dilihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, nona adalah sosok yang tidak mudah dilupakan.
Patricia :Anda tepat sekali, sayalah orang yang disebut-sebut sebagai detektif terkenal itu. Anda tau, kasus-kasus seperti pencurian berlian sampai pencurian ayam, sayalah yang memecahkannya. Bahkan seperti kasusnya Rafli kemarin, anda tahu siapa yang ada dibalik pengacara Ruhut Sitompul?
Tika :Pasti anda kan nona detektif?
Patricia :Bukan…… karena pada masalah ini kasus yang diangkat adalah laki-laki yang sudah menikah, jadi …. Saya tidak begitu tertarik
Tika :Jadi intinya, anda hanya menangani kasus artis-artis muda dan keren donk
Patricia :Ya….. boleh dibilang begitu.
Satu persatu tamu berdatangan mengucapkan selamat pada Yulia, tetapi hanya dyah yang tidak menguccapkan selamat…
GM :Selamat ulang tahun ya sayang…..
(sambil bersalaman)
Tika :Cieh….. mesra banget, jadi ngiri nih ngeliatnya!
(sambil tersenyum-senyum)
GM :Bisa aja kamu
Nungguin siapa Yang, kok acaranya belum dimulai?
Tika :Gimana sih! Ya nunggin sang pangeran donk…!
Yulia :Ya… ya
Nana kamu buka acaranya sekarang aja, kan temen-temen dah pada dateng.
Nana :Oke deh….. (sambil berjalan ke tengah ruangan)
Selamat malem teman-teman makasih ya, dah dateng di pesta temen kita Yulia yang ke 20 tahun. Sambil nunggu temen-temen yang lain, kita saksikan dulu penampilan yang berikut ini.
[Musik + dance, Tiba-tiba …., Pyaaarrrr!!!]
Yulia :Kakek…!!!
(sambil mendekati kakeknya yang tergeletak dilantai)
Para tamu pun melonggok kaget
Patricia :Tunggu…..!!!
Jangan ada yang menyentuh tuan Sastro!
Letnan tolong kumpulkan para tamu diluar dan panggil penyidik untuk mengetahui penyebab kematian Pak Sastro.
Letnan :Baik!
Secepatnya penyidik akan tiba disini.
Pasukan periksa para tamu!!!
[Setibanya penyidik dilokasi kejadian ….]
Penyidik :Letnan, menurut hasil laboratorium Tuan Sastro meninggal karena zat arsen dalam minuman ini. (sambil menunjukkan hasil lab)
Yulia :Arsen… ??
Apa itu?
Penyidik :Zat arsen adalah zat racun berbahaya yang dapat mematikan dalam waktu beberapa menit saja. Dan zat ini biasa digunakan untuk campuran racun tikus
Diah :Bi’Inah ….!!!
Bi’ Inahlah pelakunya…!!
Bi’Inah kan yang biasanya buatin kakek minum!
Bi’Inah :Non, walaupun saya orang miskin, saya nggak pernah ada niat membunuh tuan besar, bagi saya bisa bekerja dirumah ini saja , saya bersyukur sekali.
Sumpah non…. !
Saya nggak membunuh tuan besar. (mengatakan sambil menagis)
Diah :Aa…lah….!!!
Jangan sok cengeng deh,
Heh!! Kamu pikir air matamu itu bisa menghapus bukti-bukti yang bisa memberatkanmu.
Yulia :Diah!!!! (sambil menampar diah)
Tutup mulutmu !!
Kamu jangan sembarangan kalo ngomong!
GM :Sudahlah…. Kalian jangan bertengkar sendiri,
Disini ada detektif patricia dan letnan yang akan mengusut siapa pembunuh pak sastro.
Tiba- tiba wulan datang sambil berlari menuju jenazah kakek.
Wulan :Kakeeeek….!!! (sambil menangis)
GM :Wulan, sudahlah… Tuan Sastro sudah tidak ada.
Sabarlah…. (sambil mendekati wulan)
Wulan :Tidak…!
Kakeeek!
Siapa yang membunuh kakek….?!!
Siapa…??! (sambil mengoyak-ngoyak badan GM)
Letnan :Nona Wulan,
Tenangkan diri anda, kami akan mengusut kasus pembunuhan ini.
Patricia :Bi’Inah, Jam berapa tuan minum obat?
Bi’inah :Setiap pukul 19.30, tuan harus sudah minum obat.
Tapi, tadi pukul 19.00 tuan sudah minum obat.
Patricia :Kapan anda menyiapkan air ini un tuk minum obat?
B1’Inah :Air ini sudah saya siapkan sejak pukul 18.00
Tadi non Yulia tahu kok, saya mengambil air dari botol yang biasa tuan minum.
Yulia :Itu bener nona detektif,
Saya tahu dan saya pun sempet minum air dari botol yang sama.
Patricia :Nona Wulan, dari mana anda barusan?
Wulan :Saya baru datang dari giant.
Patricia :Pukul berapa anda pergi ke giant? Dan untuk apa anda pergi kesana?
Wulan :Saya pergi keGiant untuk mengambil kaca mata Yulia dan membelikan Es krim dan coklat. Saya berangka pukul 18.00
Patricia :(Mengangguk-angguk)
Pengiring….
Setelah semua barang bukti dikumpulkan dan para saksi diminta keterangan akhirnya detektif patricia menemukan siapa pelakunya
Patricia : Berdasarkaj alibi masing-masing orang yang ada disini, aku sudah menemukan siapa pelakunya . Iya………..kamulah pelaku utama yang telahy membunuh Pak Sastro (menunjuk Dyah)
Dyah :Eh….nona Patricia, anda jangan sembarangan menuduh, anda bisa saya tuntut karena merusak nama baik saya.
Anda ini sebenarnya detektif gadungan atau detektif gedongan sich……..???
(sambil menunjuk kearah Patricia).
Patricia :Nona Dyah …..!!! aku tidak menuduh anda, tapi aku menunjuk orang yang berdiri dibelakang anda. Kamu, iya………….kamu wulan
(sambil menunjuk kewulan).
Wulan :Aku……..!!! (dengan ekspresi terkejut)
Nona detektif, anda jangan menuduh sembarangan, jelas-jelas saya tadi sudah bilang kalau saya pergi ke Giant untuk mengambil kacamata yulia dan membelikan eskrim dan coklat.
Partricia :Wulan ……….!!!Kamu jangan melucu seperti itu
(sambil tersenyum sinis).
Memang jarak rumah ini ke Giant membutuhkan waktu ½ jam. Jadi kalau PP kurang lebih 1 jam baru sampai. Sedangkan berbelanja coklat, es krim dan mengambil kacamata membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Dan kalau dijumlahkan waktu yang diperlukan kurang lebih 1 jam 15 menit. Tapi, bagaimana kalau seandainya kamu telah mengambil kacamata itu, membelikan coklat dan kue kering pada waktu siang tadi, apa itu juga termasuk salah satu hitungan ? Yulia, apa es krim yang kamu pesan ada?
Yulia :Kata kak Wulan sich…..!!! hari ini semua eskrim di swalayan itu dipesan sama pemilik showroom mobil untuk pesta ultah anaknya. Jadi tidak ga ada eskrim yang tersisa.
Patricia :Kenapa tidak menyuruh kakakmu untuk membelikan di tempat lain ?
Yulia :Karena aku tidak begitu suka dengan eskrim selain dari toko sakura itu, toko sakura kan terkenal eskrimnya dan kak wulan tahu ini.
Patricia :Wulan, sebenarnya eskrim itu sudah kamu belikan, tapi berhubung eskrim itu mencair kamu lalu panik dan membuat alasan itu. Kamu sebenarnya ingin menaruh eskrim itu di lemari es,tetapi kamu takut yulia akan mengetahui eskrim itu, lalu akan mengetahui semua rencanamu. Dan satu hal lagi, usahamu untuk menyalakan AC mobil tidak bisa membantu mendinginkan sebungkus eskrim. Alibimu tentang membeli eskrim dan kue kering dan mengambil kacamata hanya alasan yang justru akan memberatkanmu pada masalah yang kau ciptakan sendiri. Kamu ridak bisa menyangkal kamulah pembunuh Tuan Sastro. Air yang diminum Pak Sastro telah kau beri racun, saat semua orang telah mengira kamu pergi ke Giant.
Letnan :Jadi bungkus racun arsen ini ada pada si pelaku.
Patricia : Iya
Letnan : Petugas cepat periksa Wulan….!!!
Petugas :Tidak ada Bu (setelah memeriksa Wulan)
Patricia :Coba buka sepatumu
(Melihat kedalam sepatu Wulan dan mengambil bungkusan yang ada di dalamnya)
Letnan :Jelas sudah. Penyidik. Periksa bungkusan ini ….!!!
Penyidik :Benar Bu, ini adalah bubuk arsen
Wulan :Ha..ha..ha.. (sambil tertawa getir)
Bisa juga rencanaku diketahui olehmu nona detektif. Memang akulah yang membunuh kakek. Ini aku lakukan karena aku tidak sengaja menemukan diary ayah di laci kakek. Disitu tertulis bahwa kakek telah mengambil hak keluarga kami. Bi’ Inah yang sudah bekerja selama bertahun-tahun disini, sebenarnya adikku yang tidak diinginkan keberadaannya, karena dia cacat. Ibuku telah disumpah oleh kakek, kalau rahasia ini terbongkar maka tak sepeserpun warisan kakek akan jatuh ke tangan kami.
Patricia :Wulan, tindakanmu terlalu gegabah. Sebenarnya kakekmu sebelumnya telah membuat surat wasiat, yang mana surat itu, isinya adalah semua harta keluarg Sastro dan aset-asetnya diberikan kepada Bi’ Inah sebagai pewaris tunggal. Sedangkan yang lainnya hanya mendapatkan sebuah rumah dan mobil.
Bi’ Inah :Non, walaupun semua orang mengira kakek jahat, sebenarnya beliau adalah orang yang baik, beliau tidak pernah membentak ataupun memarahiku. Beliau selalu bercerita, kenapa keluarga ini tidak pernah rukun. Beliau sangat mengharapkan sebuah keluarga yang harmunis.
Wulan :Kakek………..kakek………..!!! (sambil memeluk kakek)
Maafkan aku kek, maafkan aku ……………..
(dengan tangis isak penyesalan)
Letnan :Petugas!!! borgol dia!!!
Petugas :Baik Bu
Penyesalan memang selalu datang di akhir, isaak tangis, jerit hati dan rasa iba pun tak mampu kembalikan apa yang telah terjadi. Wulan hanya bisa menangis. Ia menyesal telah melakukan kejahatan itu. Namun apalah yang bisa ia lakukan,, ia hanya bisa menangis dan meratapi segala perbuatannya itu di dalam penjara.
Kisah cinta dan lain-lain
Sebuah sandiwara pendek
Karya: Arifin C. Noer
MEWAH, MUSIK SEBUAH RUANG TENGAH DARI SEBUAH RUMAH YANG SANGAT SEPI.
PINTU KAMAR ITU TERTUTUP, RUANG LENGANG
OTONG LEWAT.
PINTU KAMAR ITU TERBUKA: TUAN MANTO DAN DOKTER X MUNCUL
1. Tuan                       : Tak ada jalan lain, dokter?
2. Dr.X                      : (menggeleng)
3. Tuan                       : Mungkin ada, mungkin ada dokter lain yang bisa menolong?
4. Dr.X                      : Hasilnya akan sama. Ini bukan semata penyakitnya yang memang sangat parah, tapi juga usianya yang sudah sangat tua. Dan lagi dia tak punya sedikitpun semangat dan kemampuan untuk hidup.
5. Tuan                       : Barangkali saya yang salah. Kami agak terlambat menghubungi barangkali
6. Dr.X                      : Saya kira tuan dan nyonya sudah cukup berusaha seperti jua saya. Nah tuan, saya kira sudah waktunya saya pergi. Saya harap tuan dapat menghibur hati nyonya supaya tabah.
7. Tuan                       : Terima kasih dokter
8. Dr.X                      : Selamat sore tuan
9. Tuan                       : Selamat sore
Dr.X DAN TUAN MANTO EXIT.
PINTU TERBUKA NYONYA MUNCUL DALAM TANGIS, TUAN MUNCUL LALU MENGHAMPIRI
10. Tuan                      : Sudahlah
11. Nyonya                 : Kau harus dapat menyembuhkan. Kau tau saya sangat sayang kepadanya.
12. Tuan                       : Apalagi yang harus saya perbuat?
13. Nyonya                 : Saya tidak peduli
14. Tuan                       : Sudah dua orang dokter
15. Nyonya                  : Bila perlu seluruh dokter hewan yang ada. Saya tidak perduli dengan apa yang akan kau perbuat ( diam ). Kau jangan diam saja.
16. Tuan                       : (meledek). Apa saya banting saja dia?
17. Nyonya                  : Kasarnya (menjerit, menangis) (lalu exit)
18. Tuan                       : Maar saya bingung (menghampiri exit)
WEKER MENUNJUKKAN JAM 16:30. OTONG MEMUTAR JAM ITU LALU EXIT
PINTU TERBUKA, DOKTER Y. MUNCUL LALU EXIT, LALU TUAN DAN NYONYA MUNCUL
19. Nyonya                  : dia memang dokter paling bodoh yang ada di Jakarta ini. Kenapa kau panggil dokter pandir itu?
20. Tuan                       : Siapa lagi kenalan kita? Professor Marjo?
21. Nyonya                  : Ya, orang tua itu pasti bisa menolong nyawanya, apa Nyonya  : Dia memang dokter paling bodoh yang ada di Jakarta ini. Kenapa kau panggil kau percaya pada mulut dokter swasta tadi? Bahwa umurnya tinggal satu jam
22. Tuan                       : Tak tau lah ( exit )
TERDENGAR SUARA TUAN MANTO MENGHUBUNGI PROFESSOR MARJO LEWAT TELEPHON
23. Nyonya                  : Willem !
24. Willem                    : (muncul) ya, nyonya
25. Nyonya                  : Buatkan bubur, sop sudah masak?
26. Willem                    : Sudah nyonya.
27. Nyonya                  : Dagingnya sudah hancur?
28. willem                     : Dagingnya juga sudah, nyonya
29. Nyonya                  : Bawa saja sup itu kekamar dulu. Juga susunya
30. Willem                    : Saya nyonya (exit)
TUAN MUNCUL
31. Nyonya                  : Bagaimana?
32. Tuan                       : Sebentar lagi dia datang
33. Nyonya                  : Dia pasti datang
34. Tuan                       : (memotong dengan keras). Otong!
35. Otong                     : (muncul) ya, Tuan.
36. Tuan                       : Siapa yang mematikan AC itu?
37. Otong                     : Saya tuan
38. Tuan                       : Bangsat!!
39. Nyonya                  : Saya yang nyuruh
40. Tuan                       : Udara begini panas
41. Nyonya                  : Saya tau
42. Tuan                       : Lalu kenapa harus dimatikan AC itu?
43. Nyonya                  : Saya tidak tau. Tadi saya ingin AC itu mati. Sekarang tidak lagi
44. Tuan                       : Hidupkan otong!
45. Otong                     : Saya tuan (exit)
46. Nyonya                  : Profesor itu pasti bisa menyembuhkanya.
47. Tuan                       : Jangan berharap berlebihan nanti kau terlalu kecewa
WILLEM MUNCUL MEMBAWA SUP DAN SUSU MASUK KEDALAM KAMAR
48. Nynya                    : Saya yakin sekali. Sangat yakin entah apa. Tapi sekarang tidak juga professor
itu tidak sanggup menyembuhkanya lebih. Ia berhanti saja memberikan kuliah-kuliah(tiba-tiba). Tuhan apa dosa saya maka kau sakiti hati saya ?
49. Tuan                       : Otong!
50. Otong                     : (muncul) ya, tuan
51. Tuan                       : Sambut kedatangan Professor Marjo di Muka
SUARA MOBIL FADE IN-STOP
52. tuan                        : itu dia. saya kira, segera.
53. otong                      : saya tuan (exit)
PINTU TERBUKA WILEM MASUK
54. wilem                     : dia tak mau makan nyonya
55. nyonya                   : taruh saja makanan itu di sana
56. wilem                     : saya nyonya
57. nyonya                   : lalu sediakan teruntuk tuan professor
58. wilem                     : saya tuan
WILEM MASUK KE KAMAR PINTU KEMBALI TERTUTUP, OTONG MASUK MEMBAWA TAS.
MASUK KE DALAM KAMAR BERPAPASAN DENGAN WILEM.
59. tuan & nyonya : selamat sore pak professor
60. professor    : selamat sore, dimana ?
61. tuan                        : di dalam prof
62. nyonya                   : silakan masuk prof
MEREKA MASUK KEDALAM BERPAPASAN DENGAN OTONG DAN OTONG MENUTUP PINTU.
63. otong                      : kasihan dia, tapi memang sudah tua
WILEM MUNCUL
64. otong                      : bagaimana menurut kau ?
65. wilem                     : ndak tahu
66. otong                     : makin parah ?
67. wilem                     : ndak tahu. Tapi tetap saja saya kira, seperti kemarin, ya gusti orang macam apa
dia ?
68. otong                      : kenapa kau
69. wilem                     : saya takut nyonya jadi gila
70. otong                      : mana mungkin nyonya jadi gila hanya karena binatang
71. weilem                    : kenapa tidak mungkin ?
72. otong                      : lumrah orang mencintai anjing kesayangannya
73. wilem                     : memang tapi saya belum pernah melihat laku yang berbeda seperti itu, saya belum pernah melihat nyonya bertindak mirip seperti orang gila dan sedemikian rupa menjadikan kota Jakarta ini repot karena mencintai anjng kecuali nyonya saya yang sekarang. Lalu saya menyangka nyonya pantao adalah majikansaya yang paling kranjingan oleh anjingnya tapi rupanya tidak.ada nyonya laen yang melebihi.
Kau lihat sendiri sejak kemarin rumah ini begitu sibuk hanya disebabkan anjing nyonya
74. sementara tak sepicing pun mata memperhatikan ketika kau kena malaria begitu ?
75. wilem                     : bukan. Saya hanya kuatir nyonya jadi tidak beres. Saya yakin sebentar lagi seluruh Jakarta akan sibuk hanya karena anjing itu. Memang nyonya kita ini nyonya seorang pemuka yang amat terkenal. Yang amat berpengaruh, seorang pengarang besar, seorang wartawan besar, seorang pemimpin partai, pendeknya seorang sangat berwibawa. Bahkan ia adalah  seorang jutawan dengan perusahaan- perusahaan dagangnya yang besar- besar. Tapi saya sampai tak habis piker, bahkan ketika saya belajar dibangku SKKA dulu di solo, saya belum pernah membaca cerita seperti ini, sungguh ajaib bahwa kesibukan ini hanya disebabkan yang sudah sangat tua dengan moncongnya yang sang minjijikan.
76. otong                      : Nyonya saya yang dulu  . nyonya frita selalu tidur dengan anjingnya setip malam.
77. wilem                     : Gila , suaminya ??
78. otong                      : seperti biasa selalu tidur dikamar kerjanya
PINTU TERBUKA , PROPESOR MUNCUL, KERAS BERFIKIR,,, LALU TUAN DAN NYONYA
79. tuan                        : fatal, prof..?
80. nyonya                   : bagaimana prof ? (tidak ada jawaban) masih ada harapan bukan.?
81. professor                : selalu saya bekata begitu , tetapi yang sering terjadi selalu yang sebaliknya (terbangun dari renunganya) ya, kenapa tidak? Masih ,selalu- selalu . kenapa?
82. nyonya                   : kalau begitu tuan dapat menyembuhkannya bukan?
83. professor                : saya kira saya tidak .  tapi pantang buat saya mengatakan fatal terhadap setiap pasien saya. Ya, setidak-tidaknya begitulah , setidak-tidaknya kita harus mempercayai harapan. Ya,,barangkali kita sendiri cemas sangat cemas itu sudah wajar.. tuan dan nyonya harus percaya bahwa……………. Anjing itu akan sembuh. Seprti saya juga harus percaya penyakit istri saya yang hamper selama usianya ini akan hilang. Tapi juga saya harus jujur bahwa saya tidak mampu mengobatinya . jangan cemas tabah. Nyonya tahu bahwa herder saya baru saja melahirkan  ? anjing kecil yang mungil itu akan saya bawa kemari . nyonya tentu sangat suka.
84. tuan                                    : artinya prof ??
85. professor                : artinya kalau tuan dan nyonya percaya kepada tuhan lebih baek semuanya dipasrahkan pada-Nya . jelas sudah bahwa dia dapat berbuat apa saja. Sembuh mungkin ?tidk sembuh mungkin ..saya kira ini kata-kata yang paling tepat (kepada tuan) tuan harus pandai-pandai menghibur hatinya. Dia mencintai anjingnya itu seperti mencintai paru-paru kita.  Lumrah ..ini bukan peristiwa yang aneh adalah sangat lumrah, kalau tuan menganggapnya aneh itu hanya menandakan bahwa tuan belum memahami dengan baik apa itu cinta .(ketawa) saya pernah membunuh (ketawa) nyonya yang manis , besok pagi herder saya kecil akan bertamu kemari agar nyonya dapat memulai percintaan yang baru (exit)
86. tuan                                    : otong
87. otong                      : (muncul) ya  , tuan
88. tuan                                    : antarkan professor marjo
89. otong                      : saya tuan (exit)
90. tuan                                    : lebih baik kamu mandi dulu (istrina diam) paling tidak mau istirahat
91. nyonya                   : aku tidak capek tidak lelah aku hanya ingin kesembuhan tony
92. tuan                                    : tentu, tentu. Tapi tudurlah kau.
93. nyonya                   : kenapa, coba kenapa?
94. tuan                                    : sayang, kau harus
95. nyonya                   : kau selalu tidak peduli. Selalu. Aku memang tidak mungkin melahirkan anak tapi tidak perlu kau selalu cemberut dan kesal begitu.
96. otong                      : (muncul) pak dukun sudah datang tuan?
97. tuan                                    : siapa?
98. otong                      : pak dukun dari kampung melayu
99. nyonya                   : bawa masuk, bawa masuk.
100. tuan                  : kenapa pula kau?
101. nyonya             : kalau perlu dukun sulap dipanggil asal dapat menyembuhkan tony sayang(pada otong). Bawa masuk dia. Beri makan dulu, atau tidak, tidak usah. Nanti saja kalau sudah pasti dan dapat menyembuhkan tony
102. otong                : saya nyonya (exit)
103. nyonya             : wilem
104. wilem               : (muncul) ya, nyonya.
105. nyonya             : dupa
106. wilem               : baik nyonya
107. nyonya             : kembang-kembang jangan lupa
108. wilem               : semuanya sudah siap, nyonya
109. nyonya             : segera bawa kemari
110. wilem               : saya nyonya (exit)
MUNCUL OTONG DAN DUKUN.
SELAMA ADEGAN INI TUAN MUNDAR-MANDIR
111. Dukun              : selamat malam nyonya.
112. nyonya             : selamat malam. Pasti sembuh bukan?
113. dukuk               : Allahua’lam bissawab. Tuhan yang tau. Saya ini Cuma perantara dan bersifat coba-coba.
114. nyonya             : silahkan
115. dukun               : dimana yang sakit nyonya?
116. nyonya             : didalam masuklah
117. dukun               : anak nyonya?
118. nyonya             : anjing saya, tapi sama saja. Masuklah
119. dukun               : anjing?
120. nyonya             : ya, kenapa?
121. Dukun              : maaf saya belum bisa
122. nyonya             : lalu ?
123. dukun               : Baik, saya coba ?
DUKUN DAN NYAONYA MASUK KAMAR LALU MUNCUL KEMBALI.
124. Dukun              : Lebih baik diluar saja nyonya.
125. nyonya             : kenapa ?
126. dukun               : perasaan  saya mengatakan yang menunggu ada diruangan ini.
127. nyonya             : siapa?
128. Dukun              : yang menunggu, eh maksud saya itu yang mengganggu, itu makhluk,           eh…
129. nyonya            : Saya mengerti
WILEM MUNCUL MEMBAWA DUPA DAN KEMBANG DALAM STOPLES
130. Dukun              : Jangan diatas meja. Di bawah.
131. Nyonya            : jendela perlu dibuka
132. dukun               : Tidak, tidak perlu
133. Nyonya            : Jangan ada suara ?
134. Dukun              : sebaiknya begitu
135. nyinya               : semuaya tenang
136. dukun              : Terlebih dahulu, nyonya, maafkan saya, saya ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada nyonya, saya harap nyonya
137. nyonya             : baik
138. Dukun              : Selama ini ada musuh nyonya ?
139. Nyonya            : Musuh ?
140. Dukun              : maksud saya, eh yang tidak suka pada nyonya
141. Nyonya            : O,  banyak, tapi umumnya mereka tidak mengganggu
142. Dukun              : Atau yang benci kepada anjing itu ?
143. Nyonya            :  tidak, tidak ada: semua orang sangat menyukainya berapa ornag nyonya ingin memilikinya. Oh, saya tentu saja tidak memberikannya pada nyonya-nyonya itu. Tidak setiap orang bisa meladeninya.
144. dukun               : terima kasih nyonya, permisi.
DUKUN MULAI BEKERJA
145. nyonya             : jangan ada suara. Kalau mau batuk pergi dari sini.
146. dukun               : ma’af, nyonya, saya sedang mulai
147. nyonya             : permisi
DUKUN MULAI BEKERJA KEMBALI DI DEPAN ASAP DUPA IA BERKOMAT-KAMIT
148. dukun              : (ngedan) disini?-disana?-disini?-kenapa? Saya mohon-(terpukul) ma’af-saya-kasar ma’af saya mohon ma’af-dimana saja, (dukun menjerit, setelah menjerit ia terpelanting dukun jatuh seperti pingsan)
149. nyonya             : Kenapa dia? Otong, wilem, ambil the!
150. dukun               : tidak usah nyonya. Saya tidak apa-apa. Memang luar sini
151. nyonya             : bagaimana pak dukun?
152. dukun               : ma’af, biarlah saya istirahat dulu
153. nyonya             : silahkan, oh, saya gugup sekali
TERDENGAR SUARA ANJING
154. Nyonya            : ia bersuara
155. otong                : Bukan nyonya, itu suara si bima anjing tuan broto
156. nyonya             : bagaimanapun saya harap ia akan bisa bersuara. Bagaimana pak dukun?
157. dukun               : (berat) menyesal sekali nyonya, saya harus mengatakan bahwa musuh saya tidak sepadan dengan saya. Ia luar biasa kuatnya bukan saja badan tapi rohnya. Dan saya sangat menyesal sekali harus mengatakan kepada nyonya bahwa nyonya rupanya mempunyai saingan yang sangat kuat.
158. nyonya             : maksud bapak?
159. dukun               : nyonya mencintai anjing itu bukan?
160. nyonya             : saya mencintai tony seperti saya mencintai hidup saya sendiri.
161. dukun               : anjing maksud saya nyonya
162. nyonya             : ya,
163. dukun               : nyonya mencintainya?
164. nyonya             : dia bahkan berhak minta apa saja kepada saya
165. dukun               : dan sebaliknya
166. nyonya             : dia pun mencintai saya seperti dia mencintai keanggunannya sebagai bulldog
167. dukun               : tapi nyonya yoh bisa mengetahui bahwa selama beberapa hari ini anjing itu telah jatuh hati kepada yang lain
168. nyonya             : siapa? Nyonya situmorang? Mana mungkin.
169. dukun               : bukan, nyonya. Maksud saya makluk lain yang ghaib.
170. nyonya             : tidak mungkin. Tony tak akan mungkin bisa mencintai siapapun kecuali saya. Dia tak akan mulupakan bagaimana suatu malam hujan ia saya pungut dari pekarangan. Seekor anjing yang kecil, kehujanan, sendirian dan lapar. Tidak. Tidak mungkin.
171. dukun               : ma’af nyonya. Tapi bagaimanapun juga seperti apa yang saya katakana tadi saingan nyonya sangat berat. Ia yang ghaib itu ketat memeluknya dan tak hendak mau melepaskanya. Saya sendiri telah berusaha merenggutnya tapi dia sangat kuat dan bahkan ia dengan kakinya sebesar kaki gajah menendang saya.
172. nyonya             : bangsat ( menangis)
PAUZE
173. Nyonya            : jadi bapak juga
174. dukun               : ma’af nyonya, saya sudah berusaha, berichtiar sekuat tenaga saya, semampu ilmu yang saya punyai namun Tuhan mempunyai kemauan yang bertentangan dengan saya dan karena saya Cuma manusia  maka saya harus menerima apa saja akhir lakon yang dikehendakiNya.
175. nyonya             : Tak ada yang bisa menolong saya
176. dukun               : hanya Tuhan yang punya wewenang nyonya.
NYONYA MENJATUHKAN DIRI KEATAS SOFA DAN MENANGIS, TUAN MENGHAMPIRINYA, LALU TUAN MENGHAMPIRI DUKUN DAN MENYERAHKAN BEBERAPA LEMBAR UANG. OTONG MENGANTAR DUKUN EXIT
177. Tuan                 : wilem, bawa masuk barang-barang itu.
WILEM MEMBAWA MASUK DUPA DLL, NYONYA TIBA-TIBA MASUK KEKAMAR DAN LALU KELUAR LAGI
178. nyonya             : wilem
179. wilem               : (muncul) saya nyonya
180. nyonya             : otong
181. otong                : (muncul) saya nyonya
182. nyonya             : pap
183. tuan                  : Ya, sayang
184. nyonya             : benar seperti kata pak dukun tadi, satu-satunya jalan yang ada hanyalah kita mohon kepada Tuhan untuk kesembuhan tony (kepada otong) otong
185. otong                : saya nyonya
186. nyonya             : wilem
187. wilem               : saya nyonya
188. nyonya             : masing-masing dengan cara agamanya. Kita semua sekarang harus berdo’a
untuk kesembuhan tony. Kita mulai pap
UPACARA BERDO’A DIMUALAI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TERDENGAR MUSIK MISTERIUS DAN SUARA ANJING
189. Nyonya            : dia mulai bersuara
190. wilem               : itu suara sibimo, anjing tuan broto, nyonya
191. nyonya             : gila kamu, bagaimana mungkin saya tidak dapat membedakan suara anjing saya
dengan anjing orang lain
TERDEGAR LAGI SUARA ANJING
192. nyonya             : dia bersuara lagi. Makin semangatlah kalian berdo’a. Tuhan mulai mendengar
do’a kita. Tuhan memang maha adil
193. tuan                  : sayang
194. nyonya             : kau harus berdo’a juga pap. Lebih dari biasanya
TERDENGAR LAGI SUARA ANJING
195. nyonya             : ( berbisik ) tony sayang. ( berdo’a ) Tuhan, Tuhan, Tuhan, jangan tinggalkan
saya. Tuhan dengan apa saya harus laksanakan persembahan saya kepada Mu agar lahir cahaya rahmatMu bagi kesembuhan tony-Tuhan-Tuhan-Tuhan jangan tinggalkan saya, saya tidak mau kesepian lagi.
TERDENGAR LAGI SUARA ANJING DAN MAKIN JELAS
196. nyonya             : (meledek) dia bangun
197. tuan                  : sayang
198. nyonya             : ada apa pap. Rupanya sejak tadi kau tidak berdo’a. kau kejam pap. Kau tidak
punya rasa kasihan. Kau tidak punya rasa peri kemanusiaan. Rupanya
199. tuan                  : mam, kau jangan salah faham
200. nyonya             : kau sungguh-sungguh kejam.apa beratnya permintaan ini.
201. tuan                  : sayang,sekali lagi saya bilang kau jangan salah terima.terus terang saya tidak
tega melihat kau semakin berduka.wajahmu begitu kusut hanya karena memikirkan tiny
202. nyonya             : hanya karena?kau anggap tony itu apa?oo, kau sungguh-sungguh
kejam.sungguh-sungguh kau tak punya hati.ya tuhan ampuni dia.apa yang menyebabkan dadaku dingin seprti baja itu?saya sungguh tidak percaya kau akan bisa berubah seperti ini.dua puluh tahun yang lalu aku selalu membayangkan kau seorang lelaki yang paling romantic.tuhan saya mersa betul-betuk kehilngan.dimana kau?lelaki yang romantic itu,lelaki yang hangat itu kemana pap?semakin jauh rasanya jarak antara saya dan lelaki itu.dan selam dua puluh tahun jarak itu semakn lebar,dan setiap kusadari semakin menganga,mengerikan bagai mulut seekor
harimau.(dengan nada lain),wilem kau harus selalu berdoa juga kau otong
203. Ot dan Wi        : ya,nyonya
204. Nyonya            : sudahlah,sudahlah habis waktu kita.apa kau bilang tadi?hanya karena kau
anggao tony itu apa?kau sungguh-sungguh robot.kau sungguh-sungguh batu.kau sungguh-sungguh berubah.hanya karena?kau anggapa apa dia?apa kau tak pernah berpikir bahwa tony juga punya rasa sakit? Punya nyawa? Kalau kau pernah memandang matanya kau tak akan pernah tega mengucapakna kalimat sekasar itu.dan dimana pula rasa keimananmu?jangan gegabah ,pap.bahkan mawarpun punya jiwa.
TERINGAT LAGI SUARA ANJING, MUSIK MISTERIUS
205. nyonya             : dia mulai menangis lagi. Ayolah kau berdo’a pap.
TERDENGAR LAGI SUARA ANJING
206. Nyonya            : dia tertawa lagi sekarang. Tuhan tolonglah kami, tolonglah kami kalaupun ada
dosa yang melekat kapada kami janganlah kau menghukum tony. Tuhan tony begitu bersih dan setia. Tony begitu begitu setia, begitu bersih. Tuhan tolonglah kami. Amin.Amin. Amin. Maha besar Kau Tuhan. Maha penyembuh Kau Tuhan. Kalau kau tak menolong siapa pula yang akan menolong.
Tuhan saya begitu mencintai tony dan saya tak dapat berbuat lain kecuali mencintai tony. Tuhan. Tuhan. Tuhan
TERDENGAR MUSIK YANG MAKIN MEMUNCAK DAN SUARA ANJING PUN MAKIN MEMUNCAK
207. Nyonya            : makin keras suaranya. Makin keras serunya. Tuhan.
NYONYA BERGEGAS MASUK KEKAMAR TUAN LALU PINTU KEMUDIAN DITUTUP OTONG DAN WILEM TETAP DALAM DO’A
208. Otong               : (setelah agak lam) kau nampaknya tidak sungguh-sungguh berdo’a.
209. wilem               : ngapain?
210. otong                : kelihatan pada matamu. Seperti kucing.
211. wilem               : memangnya saya mesti berdo’a untuk binatang itu? Kamu bagaimana?
212. otong                : saya berdo’a . sungguh-sungguh berdo’a.
213. wilem               : ngapai?
214. otong                : nggak tau. Tapi saya sungguh-sungguh. Barangkali saja terkabul/nggak taulah.
Tapi saya kita belum pernah  saya begitu khusyuk berdo’a selama ini kecuali tadi nggak taulah
215. wilem               : ya, semula saya juga ingin berdo’a sungguh-sungguh tapi aku selalu terganggu
setiap kali
216. otong                : kenapa?
217. wilem               : moncongnya yang ngece itu selalu membayang
218. otong               : ngomong-ngomong bagaimana dengan pacarmu?
219. wilem               : (genit) ah, Tanya itu lagi
PINTU TERBUKA DAN MUKA NYONYA NONGOL
220. nyonya             : ngapain kalian? Berdo’a, anjing?
221. wilem               : (Setelah agak lama) kamu sungguh-sungguh?
222. otong                : Sssst
223. wilem               : (setelah agak lama) matamu sekarang seperti kucing
224. otong                : diam tidak, ntar saya cium lagi seperti tempo hari
225. wilem               : (genit) ah
226. otong                : (setelah agak lama) he, bagaimana pacarmu?
227. wilem               : ngapain ah.
228. otong                : alah, pura-pura kayak perawan saja.
229. wilem               : memangnya saya janda?
230. otong                : lho jangan marah. Maksud saya kenapa kau malu setiap kali saya Tanya begitu
231. wilem               : kamu kadang-kadang menyakitkan
232. otong                : kadang-kadang tidak, ingat tidak. Ayo dulu, ingat tidak di dalam mobil? Di
garasi? Ingat tidak? Digudang kau kehilangan peniti? Ayo pura-pura.
233. wilem               : kamu nakal
234. otong                : kamu mau
235. wilem               : ah (diam) kamu tidak kasihan sama binimu?
236. otong                : kamu juga
237. wilem               : Ah
238. otong                : (tiba-tiba) astaga
239. wilem               : ada apa?
240. otong                : saya baru ingat sekarang. Astaga
241. wilem               : apa?
242. otong                : anak saya
243. wilem               : kenapa?
244. otong                : astaga, saya baru ingat lagi sekarang
245. wilem               : yang mana? Eh kenapa?
246. otong                : sakit
247. wilem               : yang mana?
248. otong                : yang terkecil. Yang bayi
249. wilem               : apa sakitnya?
250. otong                : mulai tadi pagi kejang
251. wilem               : kenapa kamu tidak minta izin pulang siang tadi?
252. otong                : tidak diizinkan
253. wilem               : kenapa tidak memaksa saja?
254. otong                : akibatnya?
255. wilem               : iya, ya
256. otong                : saya bisa saja memaksa atau minggat sebentar tapi kalau nyonya cari bisa
berabe. Kalau saya sampai dikeluarkan dan rumah ini apa yang akan terjadi saya   tidak bisa bayangkan. Anak saya bukan dia seorang empat
PAUZE
257. wilem               : terlalu dia
258. otong                : alah sudahlah
259. wilem               : kau bilang lagi saja sekarang
260. otong                : nanti saya coba
261. wilem               : sudah dibawa kedokter?
262. otong                : keklinik maksudmu?
263. wilem               : iya
264. otong                : sudah saya kira. Istri saya yang bawa. Untung masih ada uang sisa. Tapi
di……..tidak mahal!
265. wilem               : tapi kamu harus cepat pulang sekarang
266. otong                : ya, tapi nyonya menghendaki hari ini saya sampai malam. Nglembur katanya.
Sewaktu-waktu mobil diperlukan
267. wilem              : tapi saya kira, kamu harus pulang sekarang. Kasihan anak itu, kamu harus minta
ijin dulu sekarang
268. otong                : tapi apa kata nyonya?
269. wilem               : alah coba saja dulu
270. otong                : (setelah diam) (lalu mengetuk pintu)
271. tuan                  : (nongol) ada apa?
272. otong                : begini tuan, saya lebih dulu minta ma’af, karena saya harus minta izin pulang
berhubung anak saya yang masih bayi  sakit keras.
273. tuan                  : tapi betul?
274. otong                : buat apa saya bohong tuan?. Saya kira selama tiga tahun saya bekerja disini saya
tidak pernah rewel. Setiap waktu tuan dan nyonya bisa mempergunakan tenaga saya.
275. wilem              : bayinya kejang-kejang tuan
276. wilem               : bayinya kejang-kejang tuan
277. tuan                  : sekarang jam berapa? (melihat arloji) baiklah. Tapi kalau ternyata anakmu sudah
sembuh sebaiknya kau kembali lagi kesini. Sewaktu-waktu mobil dibutuhkan.
278. nyonya             : (nongol) kau jangan sembarangan, pap. Sewaktu-waktu mobil diperlukan setiap
saat mobil harus siaga. Kau sudah tua tidak mungkin kau sempurna mengemudikan mobil itu.
NYONYA MASUK DIIRINGI TUAN DAN PINTU DI TUTUP.
279. Otong               : saya juga yang salah. Dulu saya pernah bohong
TIBA-TIBA MUSIK MENGEJUT TERDENGAR SUARA ANJING BERTENGKAR. SETELAH SUARA-SUARA ITU TERDENGAR SUARA NYONYA MENANGIS KERAS
280. Otong               : Ada apa?
281. wilem               : saya kira mati anjing itu
282. otong                : kamu kira begitu?
283. wilem               : apa lagi?
284. otong                : kalau benar tony mati, kasihan tony. Saya sendiri terus-terang suka pada anjing
itu. Dia memang sudah tua sekali. Saya juga kasihan kepada nyonya.
285. wilem               : saya juga kasihan
286. otong                : sayang tony bukan betina. Kalau betina setidak-tidaknya bisa melahirkan anak
dan itu agak dapat menghibur hati nyonya
DARI DALAM TERDENGAR SUARA NYONYA MENANGIS
287. tuan                  : (dari dalam) diamlah sayang
SEJENAK KEMUDIAN PINTU TERBUKA NYONYA MENANGIS DAN TUAN MEMBUJUK. NYONYA TERUS MENANGIS DAN DUDUK DIATAS SOFA
288. Otong               : tuan , toni
TUAN HANYA MENGANGGUK
289. Tuan                 : (menghampiri nyonya ) kalau terus menangis bgitu tak baik untuk tony. Kau tadi
menasehati papi supaya beriman sempurna.nah, diam sayang ,. Sebagai orang yang soleh kau harus iklas terhadap segala kejadian. Tuhan kini tlah mengucapkan firmannya ,.nah, kau harus menurut segala perintahnya , kau harus relakan tony.
NYONYA TETAP MENANGIS DAN PERGI KEKURSI. DAN TUAN MENGHAMPIRI
290. tuan                  : diamlah sayang (diam) sayang (diam) diam sayang
291. nyonya             : (dalam tangis) tony
292. tuan                  : E ,, kau lupa kata profesor sumarjo. Besok herder kecilnya akan bertamu kemari.
Beliau akan menawarkan anjing kecil itu agar dapat menggantikan tony
293. nyonya             : saya mau diam tapi kau harus melakukan permintaanku
294. tuan                  : apa saja, apa saja asal kau mau diam.
295. nyonya             : betul ??
296. tuan                  : asal kau diam sayang
297. nyonya             : tapi kau mau berjanji akan meluluskan apa saja pintaku?
298. tuan                  : Tidak ada alasan untuk tidak mengabulkan segal permintaanmu.
299. Nyonya            : Saya sudah diam sekrang, kau harus melakukan apa saja yang kukatkan
(suaminya mengangguk) pertama kau harus mengabarkan kemalangan kita ini kepada tetangga-tetangga dan beberapa kenalan kita jangan lupa undang beberapa wrtawan malam ini.
300. Tuan                 : Tapi sayang
301. Nyonya            : Kedua kau harus mengucapkan pidato pada waktu mereka dtang dan wktu
upacara penguburan
302. Tuan                 : Tapi sayang, itu semua
303. Nyonya            : Akan menjadikan suatu lelucon, begitu? Dan kau anggap apa Tony?
304. Tuan                 : Seekor anjing apa lgi?
305. Nyonya            : Lalu kau buang saja ia sperti kaleng susu? Kejam kau! Tidak kau harus belajar
menghormati seluruh makhluk hidup. Atau kau mengharap aku bunuh diri ?
306. Tuan                 : (berseru) Otong !   MAKALAH MUNCUL OTONG
307. Tuan                 : (berseru wilem)      MAKALAH MUNCUL WILEM
308. Tuan                 : Segera kabarkan kepada tetangga-tetangga kemalangan ini jangan lupa nyonya Linda
309. Wilem              : Baik, tuan
310. Tuan                 : Otong segera susul beberarapa wartawan kenalan kita. Jangan lupa mengisi bensin.
311. Otong               : Saya Tuan. Sekarang tuan?
312. Nyonya                        : Apa kau kira lusa ?
313. Otong               : Saya nyonya
314. Otong               : saya berangkat tuan (exit)
315. wilem               : saya berangkat tuan (exit)
SEJAK ITU TUAN JADI LAIN, TERDENGARLAH SUARA DERU MOBIL PERGI
316. Nyonya                        : kenapa kau tiba-tiba berubah? (suaminya diam saja) kau jadi (suaminya tetap diam)
pap., (tak ada jawaban) pap
317. tuan                  : ada apa?
318. nyonya             : kenapa kau?
319. tuan                  : kenapa bagaimana?
320. nyonya             : kau diam saja tadi? Agak aneh
321. Tuan                 : saya sedang menyusun pidato nanti
322. nyonya             : betul?
323. tuan                  : kenapa? Kau anggap tony itu apa?
324. nyonya             : betul? Kau sedang menyusun pidato?
325. tuan                  : nah, saya telah mendapatkan kalimat yang pertama. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang
kami muliakan. Pertama kami menyampaikan rasa terimakasih kami yang luar biasa atas kehadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang telah dengan rela membuang waktu untuk hadir disini menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah dalam keluarga kami yaitu wafatnya tony sayang anjing kami yang tercinta
326. nyonya             : (bertepuk) bagus sekali. Bagus sekali. Terusnya pap. Terusnya
327. tuan                  : tuan-tuan dan nyonya-nyonya hanya ada dua peristiwa yang paling penting dalam
sejarah hidup kita yaitu kelahiran dan kematian(menangis) tuan-tuan dan nyonya- nyonya ia adalah tony adalah seekor anjing…..(menangis)
328. nyonya             : (menangis) mengharukan sekali, pap. Mengharukan sekali, terusnya pap terusnya
329. tuan                  : sekalipun demikian (menangis) sekalipun demikian………..ia adalah………..ia
adalah………..mengharukan…….(menangis)
330. nyonya             : terusnya, pap………terusnya………terusnya……..
331. tuan                  : istri saya……… istri saya……….sedemikian mencintainya………. Sehingga peristiwa
ini merupakan petir di siang hari
332. nyonya             : (menangis) tony….. tony…….
333. nyonya             : betul-betul petir, pap
WILLEM BERSAMA NYONYA A MUNCUL KEMUDIAN BEBERAPA TAMU LAINYA
334. wilem               : nyonya broto, nyonya…………
335. Nyonya            A         : jadi tony……….(menangis dan keduanya berpelukan)
336. Tuan     B          : ikut berduka cita tuan
337. tuan      C         : Ikut berduka cita tuan atas meninggalnya anjing tuan
338. tuan                  : terimakasih…….terimakasih
PEREMPUAN MUNCUL
339. perempuan       : saya mencari otong, nyonya(yang lainya tak peduliz) Dia janji mau mengawini saya.
(tetap yang lainya tak peduli) kalau bayi ini lahir, saya taruh dimana?
NYONYA YANG LAIN TERUS BERTANGISAN DAN MENGOBROL
SEMUANYA MENANGIS
340. Nyonya                        : anjing itu memang….(menangis)
OTONG DAN WARTAWAN MUNCUL
341. otong                : cuma tuan alex, tuan. Wartawan-wartawan yang lain sedang mengunjungi upacara
kematian anjing yang lain
342. wartawan         : ikut berduka cita tuan
343. nyonya             : tuan alex, jangan lupa menyebutkan dalam Koran bahwa tony pernah kencing di sepatu
saya. Dan tuan tau apa yang terjadi pada diri saya waktu itu. Saya bahagia sekali bahwa      ada juga yang mengencingi sepatu saya.
344. perempuan       : Kang otong……….!
345. otong                : kenapa kau kemari?
KEDUANYA OUT OF FRAME
346. Tuan     D         : nyonya saya tidak menyangka…….
347. tuan      E          : kejadian yang tak terduga-duga nyonya…….
348. nyonya             : saya sendiri tidak menyangka bahwa suami saya yang terakhir ini akan secepat ini
meninggalkan saya……….(menangis parah)
349. nyonya A         : tabahkan hati nyonya. Semoga tony mendapat tempat yang layak di akherat
350. semuanya         : Amin
351. nyonya             : suami saya yang masih hidup , sejak dua puluh tahun hanya ribut dengan cita-
citanya…..(menangis) setiap pagi, setiap saya bangun setelah malamnya tidur dengan      berbagai mimpi buruk……… setiap pagi saya hanya menjumpai tony dan tony, tony yang lain, seperti biasa dengan setia rebah di kaki saya. Tuan alex dia juga suka menjilat-jilat betis saya dan sekarang…… tony…… tony….
SEMUANYA MEMBUJUR
SEORANG PEMUDA MUNCUL
352. Pemuda                        : saya mencari otong. Dimana otong. Anaknya meninggal
353. nyonya A          : anjing itu lucu sekali
354. nyonya B          : tidak Cuma lucu……….
SEMUANYA MENGOMENTARI
KEMUDIAN MUNCUL PROFESOR MARJO
355. Profesor           : nah, nyonya sekarang nyonya harus merelakan semuanya. Tapi jangan khawatir, besok
pagi herder saya akan segera bertamu kamari
356. Pemuda                        : saya mencari otong. Anaknya meninggal
357. profesor           : tuan saya ikut bela sungkawa
358. nyonya             : sekarang kau harus pidato, pap, pidato.
359. tuan                  : tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang kami muliakan betapa terimakasih kami atas
hadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya untuk memberikan penghormatan kepada……..,     kepada………… yang tercinta………. Tony anjing kami, yang telah………(menangis) semua ini bagai……..
360. nyonya             : petir di siang hari, pap
361. tuan                  : ya, petir disiang hari…….(menangis)
362. nyonya             : dia betul-betul terharu…..singkat saja, pap. Lanjutkan sebelum kau pingsan
363. tuan                  : singkatnya dengan ini kami mengharapkan kehadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya
besok pada upacara penguburan tony sayang di kebun……
SEMUA ORANG MENYAMPAIKAN RASA DAN CITANYA SAMBIL BERJABAT TANGAN DAN MENINGGALKAN RUMAH ITU, SEMENTARA ITU:
364. Pemuda                        : saya mencari kang otong. Anaknya meninggal sore tadi
365. nyonya A         : tabahkan hati nyonya
366. nyonya             : terimakasih tetapi siapa yang akan saya jumpai kalau besok saya bangun pagi?
367. nyonya             : nyonya…..(mereka berpelukan)
368. Pemuda                        : saya mencari otong……. Di mana otong………. Otong. Anakmu meninggal…………(lempu perlahan-lahan meredup)
MEREKA BERPELUKANLAH, SEJENAK KEMUDIAN TURUNKANLAH TAKBIR ATAU LAMPU GELAP-GELAP YANG INI BERARTI SANDIWARA INI TELAH SELESAI SUDAH SAMA SEKALI
SELESAI………………………………………………………………….
SELESAI DIKETIK ULANG  “teater getar”
SALATIGA, 02-01-08
“SEMANGAT ORANG-ORANG YANG TERLUPAKAN DI PERSIMPANGAN MUSIM
Gambar Cinta dari Atjeh
Naskah Lakon R. Timur Budi Raja
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Pengubur 1
“Seperti kami, 50 tahun usianya dihidupi penderitaan, darah, kematian, orang-orang yang diburu dan dibantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang-orang yang diburu itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi gerimis.
Pengubur 2
(meletakkan cangkul)
Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adalah pertikaian yang dimulai dari kejahatan janji. Tentara pusat datang dan mencoba membungkam teriakan kami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka tidak memperbolehkan kami berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk tidak hidup bersama mereka. Ya, bersama mereka! Negara telah membuat mereka tak mengenal kami sebagai saudara yang harus memilih jalan lain.
Pengubur 3
Kemudian mereka menculik seluruh kaum laki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan suaminya, anak-anak gadis diperkosa, dan laki-laki yang lain harus pergi ke hutan-hutan.
Pengubur 4
Sudahlah! Tak baik kita mengingatnya lagi. Jangan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini, menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih baik.
Pengubur 2
Tidak! Aku mulai mempertanyakan,  kenapa harus selalu tanah ini? Kenapa penderitaan selalu datang dan bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku jadi sangsi!
Pengubur 1
Tutup mulutmu! Jangan biarkan pikiranmu kotor, akankah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan keadilan Tuhan.
Pengubur 3
Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, ditanah ini? Bertahun-tahun kita tenggelam dalam penderitaan ini.
Pengubur 4
Kau gila. Kalian berdua gila!
Pengubur 2 & 3
Ya, kami memang gila! Kami mulai sangsi, kami mulai tidak percaya terhadap apa-apa dan siapapun. Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghianati kepercayaan kami
Pengubur 1
Cukup! Musibah ini telah terjadi, lebih baik kita kuburkan mayat-mayat saudara kita ini. Apakah akan kita biarkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Bangkalan-Sumenep, 2004
PANGGUNG KOSONG TERLIHAT DEKORASI DENGAN NUANSA PEDESAAN. TERDENGAR MUSIK GENDING JAWA. MBOK MENAH MASUK DENGAN MEMBAWA TAMPAH BERISI BERAS, KEMUDIAN MEMPERKENALKAN DIRI KEPADA PENONTON.
Mbok Menah :”Para penonton, perkenalkan nama saya Mbok Menah. Saya ini, simboknya para klenting. Perlu saudara-saudara ketahui bahwa saya sangat bangga mempunyai anak yang cantik-cantik, pinter-pinter, sehat-sehat, berbakti pada orang tua, penurut lagi. Pokoknya tidak ada yang menandingi mereka di seluruh desa ini. Sudah banyak para pemuda desa yang melamar mereka. Eh, sudah ya penonton, saya permisi mau masak dulu. Soalnya anak-anak saya belum sarapan.
KEMUDIAN MBOK MENAH KELUAR PANGGUNG. TERDENGAR MUSIK BERIRAMA KERAS, MENGIRINGI MASUKNYA PARA KLENTING. KEMUDIAN MEREKA MEMPERKENALKAN DIRI.
K.Abang :”Assalamu’alaikum…para penonton…perkenalkan…kami adalah para klenting anak Mbok Menah. Nama saya Klenting Abang, saya ini yang tertua lho…!”
K.Ijo :”Nama saya Klenting Ijo.”
K.Biru :”Kalau saya Klenting Biru.”
K.Ungu :”Kalau saya Klenting Ungu”
K.Abang :”Para penonton, kami ini sangaaat menyayangi si mbuk kami. Karena si mbok kami itu memberikan kebebasan buat kami. Itu artinya simbok kami mempercayai kami. Betul’kan adik-adikku?”
K.Ijo :”Benar sekali penonton! Kami-kami ini ‘kan masih muda. Usia muda harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, hidup Cuma satu kali jangan disia-siakan … hi … hi …hi …”
K.Abang :”Eh,adik-adikku!sudah, ayo kita masuk, kitaharus membantu simbok masak!ayo!”
KLENTING-KLENTING AKAN KELUAR PANGGUNG, TETAPI TIBA-TIBA DATANG KLENTING KUNING.
K.Kuning :”Permisi…permisi…kolonuwun…spada…”
KLENTING-KLENTING BERBALIK ARAH MENUJU KLENTING KUNING. KLENTING ABANG MENDEKATI KLENTING KUNING.
K.Abang :”Ada apa, mau ketemu siapa?”
K.Kuning :”Saya…saya…saya ini pengembara yang tidak memiliki rumah. Saya juga tidak punya orang tua. Saya memohon jadikanlah saya saudara kalian…please…”
K.Ijo :”Apa? Mau numpang disini?sorry! sudah nggak ada tempat.”
K.Ungu :”Iya! Lebih baik kamu cari tempat lain saja! Disini tempatnya sudah penuh! Ayo pergi sana !”
K.Kuning :”Please… saya mohon… saya mau disuruh apa saja deh… please…”
K.abang :”Plas plis plas plis!ngomongnya saja aneh-aneh sudah sana pergi saja! Nggak level!”
TETAPI KLENTING KUNING TETAP MEMAKSA SAMPAI TERJADI KERIBUTAN. MBOK MENAH DATANG DARI ARAH DALAM.
Mbok Menah :”Anak-anaku…ada apa toh ini, kedengarannya ribut-ribut!ada apa?”(Kemudian Mbok Menah menghampiri Klenting Kuning)
“Lho… siapa ini? Cantik sekali kamu nduk…?”
K.Kuning :”Mbok…saya ini seorang penggembara…saya tidak punya orang tua tidak punya rumah…saya hidup sebatang kara…jadi tolonglah mbok, saya ingin menjadi keluarga disini, please……”
Mbok Menah :”Plis…? Plis iku opo to nduk?”
(Mbok Menah bertanya pada anak-anaknya)
K.Abang :”Alaah…sudahlah mbok! Tidak ada gunanya menanggapi dia.”
K.Ungu :”Iya lagian rumah kita …khan sudah penuh dengan wanita mbok, kamarnya sudah pas !”
Mbok Menah:”Sudah-sudah, jangan ribut! Si mbok tambah bingung nih. (menunju ke arah Klenting Kuning) Nduk Cah Ayu …Simbok ijinkan kamu tinggal di sini .Tapi kamu harus bantu-bantu disini ya?”
K.Kuning :”Wuah…! Terima kasih … terima kasih mbok!” (sambil mencium tangan si mbok berkali-kali dan klenting yang lain meras risih)
Mbok Menah:”Iya…iya…iya…eh, tapi ngomong-ngomong siapa namamunduk?”
K.Kuning :”Saya nggak tahu !” (K. Kuning tampak bingung)
Mbok Menah:”Ya sudah…sudah …(tempo) mmm…karena pakaianmu kuning-kuning jadi kamu kuberi nama…Klenting Kuning.”
PARA KLENTING YANG LAIN MERASA SEWOT, TETAPI KLENTING KUNING MERASA GEMBIRA.
Mbok Menah:”Nah kamu sekarang bergabubg dengan saudara-saudaramu.Ayo sana!”
K.Kuning :”Baik mbok……”
MUSIK GENDING JAWA/CAMPUR SARI. MBOK MENAH DAN PARA KLENTING KUNING KELUAR PANGGUNG.
Adegan II
PANGGUNG KOSONG,KLENTING KUNING MASUK SAMBIL MENYAPU.
K.Kuning :”Para penonton, saya sangaaaat bersyukur, karena saya sekarang mempunyai rumah,tetapi saudara-saudara saya itu tidak menjag kebersihan rumahnya alias jorok. Walaupun saya diperlakukan seperti pembantu, tidak apa-apa, asalkan tujuan saya untuk menemukan Kakang INU KERTAPATI tersampai.Tapi yang saya herankan penonton, kakak-kakak saya tingkah lakunya aneh-aneh.Pada saat saya membersihkan kamar mereka, say menemukan puntung rokok.Kemarin malam, saya menemukan botol-botol birdi kamar mereka,dan mereka sering pulang malam.Tetapi Mbok menah tidak tahu hal ini.Pasti ini akibat salah pergaulan.
TIBA-TIBA TERDENGAR MUSIK KERAS, PARA KLENTING MASUK PANGGUNG DENGAN CIRI KHAS MASING-MASING. ADA YANG MEROKOK, MEMBAWA BOTOL BIR SAMBIL BERJALAN SEMPOYONGAN.
K.Abang :”Heh, Klenting Kuning! Si Mbok mana?” (berkata ketus)
K.Kuning :“Ada di dalam…”
K.Abang :”Ya…sudah!”
PARA KLENTING KELUAR PANGGUNG DIIRINGI MUSIK KERAS. KLENTING KUNING MENERUSKAN MENYAPUNYA. KEMUDIAN MBOK MENAH DATANG MEMBANTU KLENTING KUNING. KEMUDIAN DATANGLAH SEORANG PENYIAR TV MEMBAWA PENGUMUMAN.
Py.TV : “Pengumuman-pengumuman…….Barangnya siapa yang merasa perempuan dan memenuhi persyaratan,seorang pemuda dari dusun seberang mencari jodoh untuk dijadikan pendamping hidupnya.”
Mbok Menah:”Wuah! Ini baru kabar gembira! (tempo) anak-anakku! Klenting Abang…Klenting Ijo…Klenting Ungu…Klenting Biru…! Ayo semuanya kesini!”
PARA KLENTING MASUK PANGGUNG.
Koor :”Ada apa Mbok?”
Mbok Menah:”Dengar Nduk…Cah Ayu! Baru saja disiarkan di TV lewat sekilat info,bahwa Si Ande-ande Lumuten,eh salah….Ande-ande Lumut yang gagah perkasa sedang mencari istri. Ini peluang untuk kalian! Ayo cepat! Kalian segera berangkat! Nanti pendaftarannya keburu tutup! Ayo cepat berangkat!”
SEMUA KLENTING NAMPAK SANGAT GEMBIRA.
K.Kuning :”Mbok,bagaimana dengan saya?”
K.Abang :”Heh, kamu di rumah saja! Sama simbok!”
K.Ijo :”Iya, lagian nggak level! Ande-ande lumut tidak akan menerima kamu, ngerti!”
Mbok Menah :”Iya nduk…, Kamu di rumah saja, sama simbok.
KLENTING KUNING MENGGERUTU.
K.Abang :”Ya sudah mbok, kami berangkat ya!”
K.Ungu :”Mohon doa restu, Mbok!”
Mbok Menah:”Ya sudah, sana berangkat!”
PARA KLENTING KELUAR PANGGUNG DIIRINGI MUSIK KERAS.PANGGUNG KOSONG.
Adegan III
YUYU KANGKANG MASUK PANGGUNG SAMBIL BERJOGET-JOGET,DIIRINGI MUSIK CAMPUR SARI “PERAHU LAYAR”. DITENGAH DIA BERJOGET, TERJADI PANTATNYA TERJEPIT SUPITNYA SENDIRI.
Yuyu K :(logat madura)
“Aduh… aduh…Oh…pantesan! Rupanya pantatku kejepit supitku sendiri.” (tempo).Kemudian yuyu kangkang duduk di pinggir panggung sambil celingak-celinguk. “Kok sepi ya, tumben, dari pagi sampai siang belum ada penglarais!”
KEMUDIAN PARA KLENTING MASUK PANGGUNG.
K.Abang :”Wah…kok sepi, mana perahunya?”
SEMUA KLENTING JADI RIBUT MENCARI PERAHU,TIBA-TIBA DATANG YUYU KANGKANG MENAWARKAN JASA.
Yuyu K :”Duh kanak…nona-nona yang cantik-cantik ini mau kemana ta iya?”
K.Ijo :”Wah…kebetulan ada yuyu kangkang. (menuju ke arah yuyu kangkang) Yuyu kangkang yang baik dan cakep, tolong dong! Kami-kami ini disabrangkan ke desa sebrang, soalnya kami mau menemui Ande-ande Lumut.”
Yuyu K :”Oh … Mau ke Desa Dadapan. Mau menemui Nde-Ande Lumuten ta iya? Boleh-boleh asalkan saya dibayar 1 juta tiap orang, bagaimana? (sambil berekpresi cuek)
K.Abang :”Wah,mahal sekali,kami tidak punya uang sebanyak itu.”
Yuyu K :”Waah…kalau nggak mau ya sudah, tak tinggal pergi saja!”
SEMUA KLENTING NAMPAK KEBINGUNGAN.
K.Abang :”Eh…eh!Tunggu dulu!”(mendekati yuyu kangkang dan merayunya) Yuyu kangkang…kamu kan baik dan ganteng! Tolong dong …kami dibantu, sekali-kali gratis kan tidak apa-apa.”
YUYU KANGKANG YANG SEMULA GR KARENA DIRAYU JADI KAGET DAN MARAH.
Yuyu K :” Apa?!! Gratis?!! Duh…aduh…jaman sekarang nggak ada yang gratis dek, sampeyan jangan seenaknya bilang begiti sama saya!”
YUYU KANGKANG BEREKPRESI BERPIKIR , PARA KLENTING TERLIHAT BINGUNG DAN KECEWA.
Yuyu k :”Mmm…yak! Saya punya jalan keluarnya, dek.
Koor :”Bagaimana…bagaimana….???”
Yuyu K :”Begini jalan keluarnya.”(para klenting mendekati yuyu kangkang) setelah sampai di seberang … saya minta disun sama sampeyan semuanya. Bagaimana?”
PARA KLENTING MERASA KAGET DAN BINGUNG KEMUDIN MEREKA MENGADAKAN RAPAT SINGKAT.
K.Abang :”Ya sudah, kami setuju. Pokoknya kami segera sampai disana!”
Yuyu K :” oke…oke.”
TERDENGAR MUSIK CAMPUR SARI “PERAHU LAYAR”. YUYU KANGKANG DAN PARA KLENTING KELUAR PANGGUNG. YUYU KANGKANG MASUK PANGGUNG LAGI.
Yuyu K : “Wuah … ciumannya dasyat!”
KEMUDIAN MASUK KLENTING KUNING DENGAN BINGUNG MENCARI PERAHU.KEMUDIAN YUYU KANGKANG LANGSUNG MENAWARKAN JASA.
Yuyu K :”Hei …! Nona cantik! Sampeyan pasti mau nyebrang ya? Sudah nggak ada perahu disini, semua perahu karam ke dasar laut! Bagaimana kalau saya sebrangkan? Tapi upahnya cium pipi kanan kiri, bagaimana?”
KLENTING KUNING BINGUNG SEJENAK, KEMUDIAN MENYETUJUINYA.
K .Kuning :”Baiklah saya setuju.”
Yuyu K :”Oke…!Oke…!”
TERDENGAR LAGU CAMPUR SARI “PERAHU LAYAR”, TETAPI SEBELUM SAMPAI DITUJUAN, KLENTING KUNING CEPAT-CEPAT MENGOLESI WAJAH DAN TANGANNYA DENGAN KOTORAN, SEHINGGA MEMBUAT YUYU KANGKANG MERASA RISIH.
Yuyu K :”Duh kanak bau apa ini? (menoleh kearah klenting kuninng) duh…aduh rupanya sampeyan yang bau. Sudah pergi sana! Pusing saya!”
YUYU KANGKANG KELUAR PANGGUNG SAMBIL BERLARI.KLENTING KUNING TERTAWA CEKIKIKAN KEMUDIAN KE LUAR PANGGUNG JUGA.
Adegan IV
ANDE-ANDE LUMUT MASUK PANGGUNG BERSAMA MBOK RONDO DAN ASISTENNYA YANG MEMBAWA MAP DAN PENSIL BESAR.
A.Lumut :”Mbok … bagaimana ? Sudah berapa wanita yang mendaftarkan diri?”
M.Rondo :”Aduh…Le,simbok yo nggak tahu,tanyak saja sama asisten. Aku sudah bayar mahal-mahal, 1 semester Rp 1.500.000,- kok ngasih informasi nggak bisa.
Asisten :”Mbok… jangan korupsi kenapa sih, bayaranku hanya Rp 100.000,- bilang Rp 1.500.000,-Biar dikira kuaya gitu ta.Masalah informasi lamaran …sampai hari ini, sudah ada 999 peserta juragan.
A.Lumut :”Wuah…cukup buanyak juga ya….Bagaimana dengan hari ini.”
Asisten :”Sampai detik ini , kita masih menunggu.”
M.Rondo :”Kowe iki wis kebelet tenan ta, sabar sedikit kenapa sih, kita tunggu sampai banyak gadis-gadis yang melamar.”
TIBA-TIBA TERDENGAR MUSIK CAMPUR SARI, PENGIRING PARA KLENTING DATANG
Koor :”Kulonuwun… spada…”
M.Rondo :”Sana, Ten. Coba dilihat,mungkin…itu yang mau melamar.
Asisten :”Ya mari-mari silakan masuk pasti nona-nona cantik ini mau melamar juragan Ande-ande lumut.
K.Abang :”Benar sekali asisten, kami mau mendaftar.”
Asisten :”Boleh…boleh…tapi ada beberapa persyaratan , syaratnya apa mbok?”
M.Rondo :” Kamu ini gimana sih,Ten. Wong catatan sudah lengkap difoto copy dan diperkecil lagi,masa kamu lupa….waktu UAS kemaren kan kamu pakai untuk ngrepek.”
Asisten :” Oh ya mbok saya ingat ada di saku baju,eh… ngomong-ngomong masalah ngrepek kelas sebelah iku lho mbok, pernah ketahuan dosen Pak Nur Wachid,kan malu ya mbok ya…”
M.Rondo :”Eh…iku rahasia,sudah baca saja persyaratannya.”
K.Ungu :”Lho kok pakai persyaratan segala kayak ngelamar pekerjaan saja.”
K.Abang :”Tuan asisten…anda jangan meragukan kami dong….Apa kami kuranbg cantik?”
Asisten :”Heh…! Jangan cerewet ya….! Kalau nggak mau pergi saja dari sini!”
Koor :”Eh iya…iya…! Kami berjanji akan mematuhi semua persyaratannya!”
SEMUA KLENTING RIBUT
Asisten :” Eh … semuanya, dengarkan baik-baik ya..”
Syarat 1: Harus cantik,dan lulus PPL I acc dari Pak Pri.
Syarat 2: Harus bersuara merdu alias bisa menyanyi dan nilai A
Syarat 3: Harus mengikuti test kesehatan, bisa lari 100 m tanpa bernapas dan nilai A dari Pak Mungit.
Syarat4: Bibir harus lengkap dan tidak sumbing,artikulasi harus jelas. Biar kalau diapa-apain bisa enak.
Gimana sudah jalas persyaratannya. Saya panggil peserta 1 klenting Abang….
SEMUA KLENTING MAJU SATU PER SATU DI TES OLEH MBOK RONDO DADAPAN.
Asisten :”Saatnya Pengumuman!”
SEMUA KLENTING – KLENTING RIBUT , MERASA DIRINYA YANG TERPILIH KEMUDIAN DATANG KLENTING KUNING DENGAN BERSAHAJA.
K.kuning :”Kulonuwun…spada…permisi…saya…mau mendaftarkan diri.”
Asisten :” Silakan…silakan…,tapi seperti peserta lain, nona harus memenuhi beberapa persyratan seperti peserta lain, persyaratannya sbb:
Syarat 1: Harus cantik,dan lulus PPL I acc dari Pak Pri.
Syarat 2: Harus bersuara merdu alias bisa menyanyi dan nilai A
Syarat 3: Harus mengikuti test kesehatan, bisa lari 100 m tanpa bernapas dan nilai A dari Pak Mungit.
Syarat4: Bibir harus lengkap dan tidak sumbing,artikulasi harus jelas. Biar kalau diapa-apain bisa enak.
Mbok ini ada gadis yang mau melamar lagi, tapi ini lain mbok bau nya mak nyoss…Apa kamu siap.”
KEMUDIAN MBOK RONDO MELAKUKAN TES TERHADAP KLENTING KUNING.
M.Rondo :” Aduh bau apa ini, nduk lihat kakimu, mungkin kamu nginjak tahi kucing, eh ternyata baumu yang nggak enak.”
KEMUDIAN MBOK RONDO , ASISTEN DAN ANDE-ANDE LUMUT RAPAT, GADIS MANA YANG AKAN DIPILIH ANDE-ANDE LUMUT.
Asisten :”Saatnya pengumuman,berdasarkan hasil rapat segitiga antara saya,mbok rondo dan juragan ande-ande lumut, maka hasil keputusannya adalah…….
Klenting abang : Dari hasil pengetesan, kamu terkena virus HIV.
Klenting Biru : Dari hasil pengetesan kamu sering merokok dan minum-miniman keras, akibat salh pergaulan.
Klenting Ijo : Dari hasil pengetesan , dan…sudah terlihat dari fisik kamu yang kurus dan paerutmu besar,kamu terkena penyakit cacingan.
Klenting Ungu : Dari hasil pengetesan, kamu terkena anemia…. Dan terlihat dari wajahmu yang pucat.
Jadi kesimpulannya, semua tidak bisa menjaga kesehatan,jadi semuanya tidak bisa diterima dan pipinya terlihat bekas sun yuyu kangkang.
Klenting kuning… dari hasil pengetesan kamu bebas penyakit, jadi kamulah yang terpilih.”
KLENTING KUNING LANGSUNG BERDIRI DISAMBUT OLEH ANDE-ANDE LUMUT.
A. lumut :”Diajeng…akhirnya kau kutemukan.
TERDENGAR MUSIK GENDING JAWA.
TEATER GETAR SAKATIGA
jl. tentara pelajar no. 02 stain salatiga  kode pos 50714

DAFTAR NASKAH
BERDASAR ABJAD JUDUL
NO
JUDUL
PENGARANG
KETERANGAN
1
Aduh
Putu Wijaya

2
Anak-Anak Panah (Permainan Baru)
Chandra Barong Harjanta

3
Badai Sepanjang Malam
Max Arifin

4
Bah
Widyo Leksono

5
Balad (Boleh disebut Wilayah atau Negeri)
Widyo Leksono

6
Ben Go Tun
Saini K.M.

7
Berbiak dalam Asbak
Zak Sorga

8
Berita Hari Ini
Andhi Kephix

9
Berita Keselamatan
Noname

10
Biadab (Suku Pemberontak)
Chandra Barong Harjanta

11
Blong
Noname

12
Bom Waktu
N. Riantiarno
Satu dari trilogi Opera Kecoa
13
Bubar (Nyanyian Pinggir Kali)
Chandra Barong Harjanta

14
Dag – Dig – Dug
Putu Wijaya

15
Dhemit
Heru Kesawa Murti
Adaptasi oleh Yoko “Jambul”
16
Dhol
Hanindawan

17
Di Lampu Merah
Ahmad Budi Sulaiman

18
Dialog Burung-Burung
R.W. A. Dyaksa VIII

19
Dua Cinta Satu Gantungan
Ali Hamzah

20
Duka Bumi (Bumi Berduka)
Chandra Barong Harjanta

21
Front
Putu Wijaya

22
Gempa
B. Soelarto

23
Godlob
Danarto

24
Ibu Bumi
Chandra Barong Harjanta

25
Isyu
Heru Kesawa Murti

26
Jagon
Noname

27
Jaka Tarub
Akhudiat

28
Jalan Pencuri
Tengsoe Tjahjono

29
Jodoh
Lin Yutang
Adaptasi dari Matrimoni Inn
30
Kamu-ku
Nontin

31
Kapai-Kapai
Arifin C. Noer

32
Kidung Pinggir Lurung
Udyn U. Pe. We.

33
Kisah Cinta dan Lain-Lain
Arifin C. Noer

34
Krempyeng
Noname

35
Kucak-Kacik
Arifin C. Noer

36
Lampu-lampu
L.H. Hakim

37
Laron
Gepeng Nugroho

38
Lelembut
Noname

39
Lembar Terakhir (dan Aku Pergi)
Retno Sayekti Lawu

40
Macbeth
Rendra
Translate by Vahet Kenarang & Amin Kamil
41
Malam Jahanam
Motinggo Busye

42
Marsinah Menggugat
Ratna Sarumpaet

43
Mastodon dan Burung Kondor
Rendra

44
Mata Kaca
Chandra Barong Harjanta

45
Membaca Calon Arang
Hanindawan

46
Memburu Manusia (Gulipat)
Hanindawan

47
Nahkoda Lapuk
Gepeng Nugroho

48
Opera Kecoa
N. Riantiarno

49
Orang Gila
Chandra Barong Harjanta

50
Orang Kasar
Anton P. Chekov

51
Orde Mangab
Untung Erha

52
Pengejaran
Emil Sanossa

53
Peradilan Bawah Tanah
Mulyani M. Noor

54
Perahu Nuh II
Aspar

55
Perahu Retak
Emha Ainun Nadjib

56
Perempuan tanpa Orgasme
Chandra Barong Harjanta

57
Perjalanan Kehilangan
Noorca Marendra Massardi

58
Pinangan
Anton P. Chekov

59
Pinggir-Pinggir Pawang Malam
Bles van Ede

60
Pintu Mati
Chandra Barong Harjanta

61
Puti Bungsu (Wanita Terakhir)
Wisran Hadi

62
Rah (Hujan Datang Tiba-Tiba)
Andhi Kephix

63
RT-Nol / RW-Nol
Iwan Simatupang

64
Rumah Buat Lisa (Terbuang)
A.F. Sinatra

65
Sebuah Peristiwa
Yustinus Popo

66
Sekarat
Catur Widya Pragoapati

67
Sengketa (Anak-Anak Pergolakan)
Chandra Barong Harjanta

68
Senja dengan Dua Kelelawar
Kirdjomulyo

69
Setan dalam Bahaya
Taufiq Al-Hakim

70
Terdampar
Slawomir Mrozek

71
Tjendera Mata
R.S. Palindih

72
Topeng
Ikranagara

73
Topeng Kayu
Kuntowijoyo

74
Umang-Umang
Arifin C. Noer

75
Utopian Train Blues
Noname

76
Wartawan
Anton P. Chekov

77
Wot (Atawa Jembatan)
Yudhistira Ardi Nugraha

78
Zoo Story
Edward Albee

79
kumpulan naskah (sampul merah)
banyak

80
Nang
Nontin

81
Qobul
Afiq Sudrajat
Teater Sopo
82
Tarub
Hendro
Teater Sopo
83
Biarkan Aku Mencari
Rudyaso Febriadhi
Teater Sopo
84
Monolog; “Senja…”
Puji Widodo
Teater Sopo
85
Dua Pemerkosa
Wafaudin Zaki
Teater Sopo (tidak lengkap)
86
Kumpulan Naskah
Getar

About these ads
«

4 Responses

  1. naskahe anak angin endi?

  2. kapan kalian brani pentas di solo?

  3. bang naskah DKJ? miskin banget ya naskahnya? dan kalau kita cari naskah di sana….memprihatinkan, serba nggak ada, kadang di daftar ada naskahnya nggak ada.

    jadi bibun…..

  4. Bgues mua loch.. V ada g drama yg latarx hanya dilngkungn sekolah ?
    Soalx q buTuh bgt drama yg sEperti itU…
    n boleh kn slah stU DRAma ini,,skaliGus q tmpilin untuk tUgas drama salah satU b.stUdy di sekolah q..
    Thanks so much..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: